Kamis, 21 April 2011

Dialogue Business Trip

Rio’s Business Trip

Rio is going on his first business trip. He’s talking to Fina about it.
Rio : (enthusiasm) Hey Fina, guess what! The boss is sending me to the Aussie for a marketing seminar next month.
Fina : Ah hah, I’m certain that you will be happy. You’ve been itching to go on a business trip for months.

Satriya, the boss, is coming.
Satriya : Ehem.. ehem..
Rio and Fina : (Stand up, greeting) Good morning, boss.
Satriya : Morning.
Fina : So, what will we talk about in this meeting?
Satriya : Rio’s business trip. Because you are the last person who went on a business trip for last year, it’s likely if you explain your experience to Rio.
Fina : Ok, boss. Before that, may I know where will Rio go?



Satriya : Sydney New South Wales Australia. This company provides service to stay at the Shangri-La Hotel Sydney and eat at the Mazzaro Restaurant. Whereas the main activity in the Riverview Seminar Centre Sydney for a marketing seminar next month. Rio can also go to places tourism in Sydney. 
Rio : Yeah, it’s fantastic. And yesterday you said there’ll be more coming up, so I should get a corporate card. Problem is, I’m certain that I don’t know how to proceed. Can you fill me in? 
Fina : Sure, no problem. First, go see the secretary and tell her where you’re going and when. She’ll arrange for transportation and hotel through our travel agent, and give you the tickets and itinerary in a few days. At the same time, ask her for an application form for the card. 
Rio : Will I use the card for everything? 
Fina : No, we have company credit arrangements with some major airlines and hotels. For this trip, you’ll probably only use it for food. Not all restaurants accept the card, so you may have to pay cash. 
Rio : Oh yeah, Mr. Satriya, Do I pay out of my own pocket? 
Satriya : Afraid so. We used to have cash advances, but the company stopped that when they started issuing cards. 
Rio : Will the company reimburse everything? 
Satriya : No, there are maximum rates. I’ll give you a list. Of course, personal items aren’t covered. And make sure you keep all your receipts. You’ll have to attach them to your expense account when you get back. 
Rio : Anything else? 
Fina : Hmm Rio, since you’ll be traveling often, apply for a frequent flyer card. It’s unlikely that you will get a problem if you careful in your business trip to Aussie. 
Satriya : You may get a wonderful day in Sydney. Good luck. (Stand up) 
Fina : Yeah, Good luck Rio. (Stand up and smile) 
Rio : Thank you. (Stand up, feels happy and shake hands with Satriya and Fina)

Senin, 07 Maret 2011

Cerpen Keluarga

Mimpiku Lebih Tinggi daripada Langit


(aku ingin bertemu denganmu, aku ingin melihatmu walau hanya dari belakang, aku akan tetap mengagumimu walau kau tak menginginkan keberadaanku)


Saat aku berusia 2 tahun, aku sempat berpikir bahwa seorang ibu adalah orang yang paling baik sedunia, dan setiap anak memiliki ibu. Apakah wanita yang tinggal serumah denganku ini adalah ibuku?
Aku pun tumbuh dewasa. Kekuranganku semakin terlihat karena secara fisik aku seperti anak laki – laki yang habis pangkas rambut. Ya, inilah aku. Gadis kecil tanpa nama, dan tanpa rambut di kepala. Aku tak pernah bebicara dengan ibuku. Yang aku tahu ibuku setiap malam menangis di kamarnya dengan menyebutku seperti anjing. Dan sehari – hari dia serasa hidup sendirian. Seakan – akan tak ada aku disini.
Suatu hari, seorang pria tampan dan rapi datang ke rumah. Dia melamar ibuku. Dia adalah orang pertama yang mengajakku bicara. Setidakknya selama hidup 4 tahun ini aku pernah mencoba bersuara namun ibu melarangku.
“Hai adik kecil... kenapa diam saja?” tanyanya sambil tersenyum dan mencubit pipiku. Terlihat dari garis wajahnya, dia adalah orang yang baik. Sama sekali tak mempedulikan bagian kepalaku.
Dengan kasar tiba – tiba ibu menyeretku masuk kamar. Aku mendengar suara dari luar bertanya sesuatu yang aku pikir tentang aku. Aku tak mendengar dengan jelas.
Beberapa hari berlalu dan ibuku dinyatakan hamil. Setahun kemudian aku resmi dipanggil kakak. Namun itu hanya istilah. Kenyataannya, bayi itulah yang menjadi “anak pertama”. Dan baru kali ini aku melihat ibu tersenyum. Bukan padaku. Tapi pada bayi itu.


Inilah pertama kali aku diajak keluar rumah oleh ibuku. Hanya berdua. Kami berhenti di suatu tempat yang agak ramai. Perkampungan kumuh yang ramai teriakkan anak kecil seusiaku. Kami memasuki sebuah rumah mewah. Lalu ibuku menyuruh untuk menunggu karena dia akan ke belakang sebentar. “Sebentar.” Katanya. Dan aku menurut. Saat itu aku belum tahu arti “sebentar”. Selama apapun, aku akan tetap menunggu. Karena dia ibuku. 
Aku merasa hari semakin gelap. Namun aku tak juga menjumpai ibu. Mataku perih. Inikah rasanya ditinggal? Kemudian air mataku jatuh. Aku menangis. 
Ada seorang nenek – nenek yang melihatku. Dia berjalan mendekat. 
“Ibumu dimana?” 
Aku tetap menangis. 
“Ayok masuk dulu sini di rumah nenek. Nanti kita cari ibumu.” 
1 hari, 2 hari, 3 minggu, ibu tak juga kembali. Aku tak tahu nama ibuku. Aku hanya mengingat wajahnya. Aku belum bisa berbicara. Dan kini itu bukanlah modal yang cukup untuk menemukan ibu. 
Secara tidak resmi, aku menjadi cucu dari nenek baik hati itu. Aku diberi nama Nadia. Dia mempunyai anak. Aku memanggilnya tante Shila. Dia tak begitu menyukaiku. Namun aku tak kesepian karena ada nenek yang menyayangiku. 
Aku disekolahkan mulai TK hingga sekarang, SMA. Ya. memakai beasiswa. Walaupun nenek selalu mengatakan bahwa aku tak perlu repot – repot mencari uang untuk sekolah karena nenek bersedia mananggungnya. Meskipun sejak kecil ibuku tak pernah mengajarkanku tentang etika, sejak tinggal bersama nenek aku tumbuh sebagai gadis yang tahu aturan. Bisa dibilang nenek adalah orang serba berkecukupan karena gaji pensiunan almarhum suaminya cukup banyak. Apalagi setelah Tante Shila menikah dan ia tinggal bersama suaminya, yang tinggal di rumah hanyalah aku dan nenek. 
Semua kebutuhanku terpenuhi, mulai dari makan sehari – hari hingga peralatan elektronik. Pernah suatu hari nenek mengajakku ke dokter untuk memeriksa kepalaku mengapa tidak ada rambut yang tumbuh, namun aku menolaknya. Biarlah aku tetap begini. Karena dengan fisik seperti inilah aku bisa menemukan ibu. 
Kini aku memakai jilbab, alasan sepenuhnya bukan untuk mentupi kekurangan fisikku, melainkan untuk menutup aurat dan bertaqwa kepada Tuhan. 
Pernah suatu hari aku berdebat hebat dengan tante Shila. Saat itu aku mengajak jalan – jalan nenek di pasar. Kami melihat – lihat barang – barang antik. Macam – macam makanan dan minuman dijual disana. Suasana begitu ramai. Apalagi saat itu hari libur. Aku dan nenek bersenang – senang. Kami bertemu dengan penjual baju – baju unik. Benar – benar sangat unik. Jika dilihat sekilas, yang nampak tidak seperti baju, melainkan gantungan – gantungan kain. Mungkin jika aku adalah turis mancanegara, aku akan mengira itu adalah souvenir khas daerah ini. 
Aku dan nenek berhenti di sebuah warung kecil. Warung itu menjual makanan sederhana seperti gule, rawon, sayur lodeh, dan lain – lain. Matahari sudah mecapai titik paling panas di daerah khatulistiwa. Aku manawarkan makan siang pada nenek. Namun nenek berkata bahwa lebih baik makan di rumah saja. Aku tetap memaksa. Aku ingin menghabiskan siang ini bersama orang yang telah membesarkanku. Dan akhirnya nenek tak punya alasan lagi untuk menolak. 
Aku memesan 2 porsi gule kambing dan 2 gelas es teh. Nenek menurut saja. Terlihat jelas pada raut wajahnya seakan ada sesuatu yang dia sembunyikan. 
“Nenek kenapa?” 
“Tidak.” Kata nenek sambil tersenyum. 
Kami memakan gule kambing itu dengan lahap. Ya, aku lapar sekali. Begitu pula dengan nenek. Pasti lebih lelah dibanding aku yang jauh lebih muda darinya. 
Selesai makan, aku dan nenek kembali ke rumah. Nenek mengaku agak pusing, kemudian dia masuk kamar dan tidur. 
Besok adalah hari Senin, hari dimana semua mata pelajaran pasti ada tugasnya. Dan kabar baiknya, aku belum menyelesaikan semua. 
Terdengar dering handphone ku. 

Tgs mtk dikumpulin kapan?
Sender: 0856xxxxxxxx



Besok lah...
Sent to: 0856xxxxxxxx


Uda ngerjain? Paket halaman brp seh? Gue lupa nyatet..
Sender: 0856xxxxxxxx


Ni baru mo ngerjaen. Hal.34 no.1-25
Sent to: 0856xxxxxxxx


Ngerjaen bareng yuk? Gue ke rumah loe skrg ya?
Sender: 0856xxxxxxxx


Ok.. gue tggu...
Sent to: 0856xxxxxxxx 

Beberapa menit kemudian Vella, temanku yang barusan sms aku, datang. Aku mengajaknya masuk ke kamar. Vella adalah DJ terkenal di sekolah. Dia adalah sahabatku. Dia menegtahui kisahku sejak lahir hingga sekarang. Dan beruntungnya, dia tidak malu berteman denganku. 
“Loe ada Sound gede kan? Nge-play lagu ya?” kata Vella. 
“Katanya mau ngerjaen tugas?” seruku. 
“Ya udah kita kerjaen dulu. Tpi boleh kan ntar gue nyalain? Kuping gue gatel kalo nggak denger musik. Hahah...” kata Vella sambil tertawa. 
Sekitar 1 jam kemudian kami selesai mengerjakan tugas membingungkan itu. Bab trigonometri yang membuat rambut – rambut ilmuwan menjadi rontok. Haha.. itulah istilahku. Entah kenyataan atau tidak aku tak peduli. 
Vella langsung menyalakan laptop dan memutar lagu favoritnya. Dejavu. Volume dimaksimalkan sehingga aku sendiri tidak bisa mendengar suaraku. Untungnya kamarku sudah difasilitasi pengedap suara. Terdengar sayup – sayup seperti suara nenek yang memanggilku. Namun aku menghapus pikiran tersebut karena aku tahu nenek sedang tidur dan tidurnya nenek pasti tidak sebentar. 
Beberapa menit kemudian ada suara seperti sesuatu yang terjatuh dan ada pula sesuatu yang pecah. Aku langsung menghentikan lagu Vella dan keluar kamar. Tak ada apa apa. Itulah yang aku lihat. Kemudian aku menuju kamar nenek. Kosong. Aku panik. Aku menuju tangga. Aku terkejut ketika mendapati nenek tergeletak diam di lantai bawah. 
“Neneeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeek” teriakku. 
--- 
Aku terdiam. Aku tetunduk. Aku hanya memikirkan bagaimana keadaan nenek. Tante Shila datang. Tanpa memandang ke arah ruang UGD, tante langsung menarikku dan membanting badanku ke tembok. 
“Apa yang kau lakukan pada ibuku?” bentaknya. Pihak rumah sakit yang melihat adegan tersebut langsung menangkan tante. Aku dibawa menjauh dari tante. Mereka tahu pasti pikiranku dan tante sedang tidak jernih dan selimuti oleh emosi. Dan emosi tidak menyelesaikan permasalahan. 
Beberapa menit kemudian dokter berkata bahwa tekanan darah nenek meninggi. Sejak lama memang nenek memiliki tekanan darah tinggi. Bodohnya, aku tidak tahu hal sepenting itu. Aku teringat pada gule kambing yang aku dan nenek makan tadi siang. Selain itu, ada retakan di tengkorak nenek. Dugaan sementara adalah karena nenek terjatuh dari tangga. Aku down. Aku lebih pantas meninggalkan nenek karena aku seperti orang yang tak tahu terima kasih. 
Sesampainya di rumah... 
“Kesabaranku ada batasanya. Sejak awal aku sudah menduga bahwa menerimamu di rumah ini bukanlah ide yang baik! Kau adalah anak cacat yang sengaja dibuang oleh ibumu karena keberadaanmu hanyalah membuat orang lain sial!!!!!!” seru tante Shila. 
Aku yang baru datang dari rumah sakit, masuk rumah langsung disemprot hinaan itu. 
“Maaf.” jawabku singkat. Lalu tiba – tiba tamparan panas mendarat di pipiku. Aku menerimanya karena hal itu masih termasuk kecil dibanding tindakanku pada nenek. 
“Cuma maaf katamu? Apakah selain tak memiliki rambut kau juga tak memiliki kemampuan berbicara?” nada tante meninggi. Aku tak kuat menahan kata – kata itu. Namun aku mencoba diam. 
“Masih tak ingin bicara? Apa yang sebenarnya ada di kepalamu itu Nad? Apa kau tidak sungkan merepotakan ibuku selama 12 tahun ini? Apakah kau tidak berinisiatif untuk pergi dari sini? Apa ini yang dijarkan ibumu sebelum kau dibuang kemari? Ibumu adalah wanita terbodoh karena ia masih membiarkanmu hidup!!!!!!” 
“Cukuuuuuuuup!!!” aku tak mampu menahannya. Karena kini yang disalahkan bukan hanya aku, melainkan juga ibuku. “Hentikan tante! Kalau memang itu yang tante inginkan, aku akan melaksanakannya, tapi kumohon jangan pernah lagi tante mengatakan 1 hal apa pun tentang ibu saya! Tante tidak tahu apa – apa!” 
“Lalu tunggu apa lagi? Kenapa tidak langsung pergi?” 
“Nadia akan pergi stelah ada kepastian kabar tentang keadaan nenek. Setidaknya Nadia ingin melihat nenek membuka mata. Setelah itu, nadia akan pergi dan Nadia janji, tante dan nenek tidak akan melihat Nadia lagi.” Kataku pelan. Aku sendiri terkejut tentang apa barusan kukatakan. Jika memang aku akan pergi, mau kemanakah aku? 
--- 
Beberapa hari kemudian nenek resmi dinyatakan sembuh dan boleh pulang, dokter memberi catatan makan apa saja yang tidak boleh dikonsumsi banyak oleh nenek. Yang lebih penting adalah, aku telah melihat nenek membuka mata. Jadi, sudah waktunya untuk aku meninggalkan tempat ini. 
Tanpa nenek ketahui, aku telah meninggalkan rumah. Kini aku persis seperti gelandangan yang tidak memiliki tujuan. Aku hanya membawa beberapa stel baju dan handphone. Aku menganggap barang – barang ini adalah barang pinjaman yang suatu saat nanti harus kukembalikan. 
--- 
Beberapa hari telah berlalu. Aku tinggal bersama Vella, sahabatku. Aku tetap bersekolah di sekolahku yang dulu. Pernah suatu ketika aku melihat nenek di sekolahku. Sepertinya nenek sedang mencariku. Sejak saat itu aku memutuskan untuk pindah sekolah. Aku bekerja sebagai pengantar koran di sebuah perumahan mewah setiap dini hari. Aku juga menjual pulsa elektrik. Mudah memang, karena tidak menyita waktu namun kadang aku jengkel karena banyak teman – temanku yang berhutang sampai berminggu – minggu. Malamnya, aku bekerja sebagai penjaga warnet. Semua ku lakukan untuk biaya sekolah dan tabungan. Tabunganku adalah untuk melunasi hutangku pada nenek dan modalku untuk menemukan ibu. 
Setiap hari belajar dan terus belajar. Aku bukan siswa terpandai di sekolah. Tapi aku juga bukan siswa yang bodoh. Aku jarang sekali menghabiskan malam minggu dengan teman – teman seusiaku. Bisa dibilang aku adalah anak kuper saat itu. Karena otakku hanya terisi oleh pelajaran dan pekerjaan. Pernah suatu sore seorang lelaki tampan mengajakku berkenalan. Karena aku terlalu polos, aku mau saja diajaknya jalan – jalan. Untungnya aku berhasil lari karena saat itu dia mengajakku tidur bersama. 
Dan sejak saat itu, aku benar – benar brprinsip bahwa tak ada lelaki yang baik. Namun aku salah ketika aku bertemu dengan saudara Vella, Renno. Dia baik padaku. Bahkan dia mengajariku matematika, kimia, dan fisika. Pelajaran yang membuatku pusing degan beribu – ribu bintang bernari – nari diatas kepalaku. 
Suatu ketika Vella memberi tahuku bahwa nenek ingin sekali bertemu denganku. Aku tetap pada keteguhanku. Aku sudah berjanji pada tante untuk tidak akan menampakkan batang hidungku pada keluarga tersebut. 
Hingga suatu hari, Vella memberiku sepucuk surat tanpa nama pengrim. 

Sudah bertahun – tahun kita tak bertemu. Aku merindukanmu. Tulus dari palung hati, aku menyesal telah meninggalkanmu saat itu. Dan kini saat aku ingin kau kembali padaku, aku bahkan tidak tahu lagi dimana keberadaanmu. Ini semua salahku. Aku terlalu egois untuk disebut sebagai orang tua. Aku sangat berterima kasih apada seorang nenek yang katanya dia telah merawatmu sampai sekarang. Namun kesedihanku bertambah karena kini aku benar – benar tidak tahu apa – apa tentang dirimu. Padahal kau dalah darah dagingku. Wajahmu pasti lebih cantik dan dewasa dibanding saat kau berusia 4 tahun. Apakah kau disana masih mengingatku? Masih adakah perasaan sayangmu padaku? Dan apakah aku masih berhak dan ada kesempatan bertemu denganmu, anakku?

Aku berpikir, mungkinkah ini ibu? Dari mana Vella mendapatkan surat ini? Aku pun baru sempat membalasnya 1 bulan kemudian. Aku terlalu sibuk dengan sekolah, pekerjaan, dan pikiranku apakah benar si pengirim surat tersebut benar ibuku. 

Apakah kau ibuku?

Hanya itu yang kutulis dalam 1 lembar kertas balasan. Aku tak mampu berkata apa – apa karena baru membaca saja aku sudah menangis. Beberapa hari kemudian aku mendapatkan surat balasan. 

Alhamdulillah kau masih hidup... aku bahagia sekali. Nadia, nama yang cantik untukmu. Aku ibumu nak... ibu kandungmu. Aku lah wanita hina yang tega membiarkanmu hidup menderita selama ini. Ku mohon...ijinkanlah aku mengajakmu kembali ke rumah. Disini rumahmu nak... kau berhak atas ini. Jika memang kau tak bersedia, 1 hal yang kuminta terakhir darimu, aku ingin bertemu denganmu.

Air mataku mengalir. Tahukah ibu? Mimpiku selama ini adalah menemukanmu dan memelukmu. Itulah yang aku inginkan. Dulu, jangankan ibu mau memelukku, melihatku saja ibu seakan tidak sudi. Dan kini jalan terbuka lebar antara kita. Aku tak akan menyia – nyiakan kesempatan ini. Ibu, tunggu aku... 

Kita bertemu di depan rumah nenek. Rabu, 2 Februari 2011 jam 4 sore.

Sepulang sekolah, aku menyempatkan membeli bunga. Ya, untuk ibu. Untuk seseorang yang ingin kutemui sore ini. Aku menyiapkan semua uang tabunganku untuk melunasi hutangku pada nenek. Aku melakukan semua dengan semaksiamal mungkin karena hari ini adalah hari yang ku tunggu – tunggu sejak 13 tahun yang lalu. 
Semua sudah siap. Aku memakai sepatu terbaikku. Baju terbaikku. Dan jilbab terbaikku. Aku berjalan menelusuri jalan setapak. Kemudian aku naik bajaj. Suara bising perkotaan ditambah knalpot bajaj yang memekikkan telinga tak jadi masalah. Seakan semua bercampur menjadi suatu musik yang indah mengiri pertemuanku dengan ibuku, dan nenek. 
Sesampainya didepan rumah nenek. Aku terdiam. Aku teringat memori tahun lalu ketika aku masih di sana. Aku tersenyum. Semua seperti dalam sinetron – sinetron dengan aku sebagai tokoh utamanya. Aku tak melihat ada wanita disini. Ach... nungkin ibu masuk ke dalam rumah nenek. Pikirku. Aku pun menyebrang jalan untuk menuju rumah indah tersebut. Kemudian datang suara berat seorang wanita setengah baya yang memanggilku. 
“Nadia?” katanya. 
Aku menoleh. Diakah ibuku? Aku merasa tubuhku kaku. Ya. Dia ibuku. Dia melambaikan kedua tangannya padaku. Aku ingin membalas dengan senyum namun terlambat karena telingaku mendengar suara klakson yang semakin keras. Kemudian semuanya gelap. 
--- 
Apakah ini surga? Kudengar seseorang menerikkan namaku. Nadia. Suara itu seperti pernah kudengar. Tiba – tiba aku merasa tubuhku perih. Aku membuka mata. Dia. Dia ibuku. Dia memelukku. 
“Aku ibu nak...” katanya dengan suara parau dan tangisan tersedu – sedu. 
Aku tersenyum kemudian aku berusaha mengucapan kata – kata, “Aaaku.. sayang ibu. Laa ilaha illallah...” kemudian mataku memaksa tertutup. Aku pun tak dapat merasakan lagi apa yang ada di sekitarku. Ya Tuhan... terima kash telah membuat mimpiku menjadi nyata. Aku bahagia.

Sabtu, 15 Januari 2011

Tertatih (Keris Patih)

Aku berjalan di dalam kesendirian
Aku mencoba tak mengingatmu dan mengenangmu
Aku telah hancur lebih dari berkeping-keping
Karena cintaku karena rasaku
Yang tulus padamu

Begitu dalamnya aku terjatuh
Dalam kesalahan rasa ini



Jujur aku tak sanggup aku tak bisa
Aku tak mampu dan aku tertatih
Semua yang pernah kita lewati
Tak mungkin dapat ku dustai
Meskipun harus tertatih

Aku tak sanggup aku tak bisa
Aku tak mampu dan aku tertatih
Semua yang pernah kita lewati
Tak mungkin dapat ku dustai
Meskipun harus tertatih

Sabtu, 08 Januari 2011

[Drama Korea] My Girlfriend is a Gumiho (2010)


- Judul: 내 여자친구는 구미호 / Nae Yeojachinguneun Gumiho
- Judul Alternatif: My Girlfriend is a Gumiho
- Genre: Romantis, komedi, fantasi
- Episode: 16

- Lee Seung Ki sebagai Cha Dae Woong
- Shin Min Ah sebagai Gumiho
- No Min Woo sebagai Park Dong Joo
- Park Soo Jin sebagai Eun Hye In
- Byun Hee Bong sebagai Cha Poong
- Yoon Yoo Sun sebagai Cha Min
- Sung Dong Il sebagai Ban Doo Hong
- Hyo Min sebagai Ban Sun Nyeo
- Kim Ho Chang sebagai Kim Byung Soo


Mengisahkan tentang cinta terlarang antara manusia laki - laki dan siluman perempuan. Hha :D Sejak awal saya tertarik covernya. Setelah tau sinopsisnya, saya ingin melihat filmnya!



Baca Sinopsis Episode 1 My Girlfriend is a Gumiho di sini.

Minggu, 19 Desember 2010

Drama Asia Terfavorit

Beberapa udah saya lihat sampe tamat.. (2012 and before)
Paling demen sama
King 2 Hearts,
Secret Garden,
My Love From Another Star,
Reply Me 1997,

Lebih fhasionable, menarik, comedy - romance, pemainnya juga keren! hha :D
Berikut ini adalah Drama Asia yang telah saya lihat dan saya menyukainya:
King 2 Hearts (K-Drama)
Secret Garden (K-Drama)
My Love From Another Star (K-Drama)
Reply Me 1997 (K-Drama)
Ghost (K-Drama)
Two Weeks (K-Drama)
A Gentlemen's Dignity (K-Drama)
City Hunter (K-Drama)
Rooftop Prince (K-Drama)
Suckseed (Thai-Movie)
ATM (Thai-Movie)
Chilling Romance (K-Movie)
First Kiss (Thai-Movie)
Seducing Mr. Perfect (K-Movie)
Touch My Heart (Thai-Movie)
Lie To Me (K-Drama)
Dream High (K-Drama)
He Is Beautiful (K-Drama)
Sassy Girl Chun Hyang (K-Drama)
Oh! My Lady (K-Drama)
Brilliant Legacy (K-Drama)
Boys Before Flowers (K-Drama)
Boys Over Flowers (J-Drama)

Hwang Jin Yi (K-Drama) 
Itazura Na Kiss (J-Drama) 
Hot Shot (T-Drama) 
Romantic Princess (T-Drama) 
Hana Kimi (J-Drama) 
The 1st Shop Of Coffee Prince (K-Drama) 
Princess Hours (K-Drama) 
Prince Hours (K-Drama) 
1 Litre Of Tears (J-Drama) 
Full House (K-Drama) 
Devil Beside You (T-Drama) 
My Girl (K-Drama) 
My Lovely Samsoon (K-Drama) 
Endless Love (K-Drama) 
Spring Waltz (K-Drama) 
100% Senorita (Twins) (T-Drama) 
At The Dolphin Bay (T-Drama) 
Corner With Love (T-Drama) 
It Started With A Kiss (T-Drama) 
Hello! Miss (K-Drama), etc

100 Tokoh Dunia

Seratus Tokoh Yang Paling Berpengaruh Dalam Sejarah
Oleh: Michael Hart


01. Nabi Muhammad
02. Isaac Newton
03. Nabi Isa
04. Buddha
05. Kong Hu Cu
06. St. Paul
07. Ts'ai Lun
08. Johann Gutenberg
09. Christopher Columbus
10. Albert Einstein



11. Karl Marx
12. Louis Pasteur
13. Galileo Galilei
14. Aristoteles
15. Lenin
16. Nabi Musa
17. Charles Darwin
18. Shih Huang Ti
19. Augustus Caesar
20. Mao Tse-Tung
21. Jengis Khan
22. Euclid
23. Martin Luther
24. Nicolaus Copernicus
25. James Watt
26. Constantine Yang Agung
27. George Washington
28. Michael Faraday
29. James Clerk Maxwell
30. Orville Wright & Wilbur Wright
31. Antone Laurent Lavoisier
32. Sigmund Freud
33. Alexander Yang Agung
34. Napoleon Bonaparte
35. Adolf Hitler
36. William Shakespeare
37. Adam Smith
38. Thomas Edison
39. Antony Van Leeuwenhoek
40. Plato
41. Guglielmo Marconi
42. Ludwig Van Beethoven
43. Werner Heisenberg
44. Alexander Graham Bell
45. Alexander Fleming
46. Simon Bolivar
47. Oliver Cromwell
48. John Locke
49. Michelangelo
50. Pope Urban II
51. Umar Ibn Al-Khattab
52. Asoka
53. St. Augustine
54. Max Planck
55. John Calvin
56. William T.G.Morton
57. William Harvey
58. Antoine Henri Becquerel
59. Gregor Mendel
60. Joseph Lister
61. Nikolaus August Otto
62. Louis Daguerre
63. Joseph Stalin
64. Rene Descartes
65. Julius Caesar
66. Francisco Pizarro
67. Hernando Cortes
68. Ratu Isabella I
69. William Sang Penakluk
70. Thomas Jefferson
71. Jean-Jacques Rousseau
72. Edward Jenner
73. Wilhelm Conrad Rontgen
74. Johann Sebastian Bach
75. Lao Tse
76. Enrico Fermi
77. Thomas Malthus
78. Francis Bacon
79. Voltaire
80. John F. Kennedy
81. Gregory Pincus
82. Sui Wen Ti
83. Mani
84. Vasco Da Gama
85. Charlemagne
86. Cyrus Yang Agung
87. Leonhard Euler
88. Niccolo Machiavelli
89. Zoroaster
90. Menes
91. Peter Yang Agung
92. Meng-Tse (Mencius)
93. John Dalton
94. Homer
95. Ratu Elizabeth I
96. Justinian I
97. Johannes Kepler
98. Pablo Picasso
99. Mahavira
100. Neils Bohr

Kamis, 16 Desember 2010

Tipe Status di Sosial Media

Status yang kamu posting di berbagai sosial media mencerminkan kepribadian dan tipe kamu.
Let's check it out!

(sumber: anonim)


1.Manusia Super Update


Kapanpun dan dimanapun update status. Status nya ga panjang2 amat..tapi terlihat bikin risih, karena hal2 yang ga terlalu penting juga dia publikasikan
contoh : "Lagi makan di restoran A..", "Dalam perjalanan menuju neraka..", "Saatnya baca koran..", dsb..



2.Manusia Melankolis
Biasanya dia curhat di status. Entah karena ingin banyak diberi komentar dari teman2nya atau hanya sekedar menuangkan unek2nya ke facebook, tapi biasanya orang tipe ini menceritakan kisahnya dan terkadang menanyakan solusi yg terbaik kepada yang laen..
contoh : "Kamu sakitin aku..lebih baik aku cari yang lain..", "Cuma kamu yang terbaik buat aku..terima kasih km sudah sayang ama aku selama ini..", dsb..

3.Manusia Tukang Ngeluh


Ga pagi, ga siang, ga malem, ga dikasih ujan, ga dikasih panas, ga dikasih uang, ga dikasih makan, pokonya semuanya dia keluhkan..
contoh : " Jakarta maceeet..!! P anas pula..", "Aaaargh ujan, padahal baru nyuci mobil..sialan. .!!", "Males ngapa2in.. cape hati gara2 si do'i..", dsb..


4.Manusia Sombong

Mungkin beberapa dari mereka ga berniat menyombongkan diri, tapi terkadang orang yang melihatnya, yang notabene tidak bisa seberuntung dia, merasa kalo statusnya itu kelewat sombong, dan malah bikin sebel.....
contoh : "Otw ke Paris ..!!", "BMW ku sayang, saatnya kamu mandi..aku mandiin ya sayang..", .... dsb..



5.Manusia Puitis
Dari judulnya udah jelas. Status nya selalu diisi dengan kata2 mutiara, tapi ga jelas apa maksudnya. Bikin kita terharu? Bikin kita sadar atas pesan tersembunyi nya? atau cuma sekedar memancing komentar? Sampai saat ini, tipe orang seperti ini masih dipertanyakan.
contoh : "Kita masing-masing adalah malaikat bersayap satu. Dan hanya bisa terbang bila saling berpelukan", "Mencintai dan dicintai adalah seperti merasakan sinar matahari dari kedua sisi",
"Jika kau h id up sampai seratus tahun, aku ingin h id up seratus tahun kurang sehari, agar aku tidak pernah hidup tanpamu", dsb..



6.Manusia in English
Tipe manusianya bisa seperti apa saja, apakah melankolis, puitis, sombong dan sebagainya. Tapi dia berusaha lebih keren dengan mengatakannya dalam bahasa Inggwis Gicyu Low..
contoh : "Tie and Chair..", "I can tooth, you Pink sun.." dsb..


7. Rada Sok tau..

sotoy tenarnya..
contoh : pemerintah selalu memanjakan rakyatnya.. bla..bla...bla. ..


pdahal gak tahu apa yang ditulis..



8. Bioskop mania..
update film yang abis ditonton dan kasih comment..
contoh : ICE AGE 3..Recomended! !



9. Tipe pedagang:
contoh: "jual sepatu bla bla bla"



10. Tipe penyuluh masyarakat:
contoh: "jangan lupa dateng ke T P S, 5 menit utk 5 tahun bla..bla"


11.Tipe Hidden Message

Tipe ini biasanya ga to the point, tapi tentunya punya niat biar orang yg dituju membaca nya..bagus2 kalo baca..kalo ngga? kelamaan nunggu, padahal langsung aja sms ya..
contoh : "For you my M***, I can't live wit hout you..you are my bla bla bla..", "Heh, cewe bajingan..ngapain lo deket2in co gw?! kyk ga laku aja lo.." <<< (padahal ce tersebut ga jadi friend nya..mana bisa baca..)


12.Tipe Misterius


Tipe yang biasanya bikin banyak orang bertanya tanya atas apa maksud dari status orang tersebut..Biasanya dalam suatu kalimat membutuhkan Subjek + P redikat + Objek + Keterangan.. Tapi orang tipe ini mungkin hanya mengambil beberapa atau malah hanya 1 saja..Dan pastinya mengundang kontroversi. .
contoh : "Sudahlah.." , "Telah berakhir.." <<< (apanya??), "Termenung.. ."
--------------------------------------------------------------------------------------
so.........


Which one are u ?? .....

Sweet Seventeen

sweet seventeen nggak mesti terindah! knapa diberi kata "sweet" aku lebih sreg kalo diganti "swet" aja! gga tau deh artinya apa... orang gga semua umur ke 17 itu indah --" aaargh..

yeah..
bisa dibilang emang karena itu smua berlawanan sama takdir ku. di hari ulang tahunkuu... di sekolah malah ada acara falidasi (atau apalah itu) yang dimana hari itu terlalu diatur (bukan apa adanya).
dani nggak bisa kesini (huft) tapi udah diganti kmaren malam.. lumayan.. tapi berakhir dengan buruk karena suatu masalah. di hari swet seventeen ku.. aku ngambeg sma dani.. hampir aja aku ngambil kputusan untuk break. tapi aku gga bisa. (gga kebayang dihari istimewa harus putus sma pacar)
menyedihkan !!
itu yang ada di hari rabu, 8 desember 2010..
teman teman gga mempan bikin aku seneng... okelaa.. aku dapet kue sma lilin (adat kelas status) namun sayangnya aku tak merasakan apa apa...

yahh....
jujur... tahun inilah yang paling (uugh) tak bisa kulupakan.. pagi pagi udah netesin air mata gara gara dani.. malemnya nothing special..

oke ..jadi intinya
tahun ke 17 = tahun paling berkesan (bukan paling manis).

Jumat, 06 Agustus 2010

Science and I

Aku cuma bisa mondar – mandir keliling rumah nggak jelas. Maen laptop tapi dipenuhi perasaan was was. Makan apa aja rasanya hambar. Televisi udah nggak menarik lagi. Bermain game pun hanya bisa memandang tulisan “YOU LOSE! GAME OVER”. Mendengarkan puluhan lagu tetapi tak satupun yang kuingat entah apa judulnya (padahal yang aku putar termasuk dalam folder my favorite). Ingin tidur, tetapi rasanya tubuh ini nggak bisa di ajak kompromi. Keringat dingin. Ujung tangan dan kaki saya terasa seperti es. Saya kedinginan. Padalah saat saya lihat keluar, suasana begitu panas karena terik matahari yang sedang semangat – semangatnya menyinari bumi. Cuci baju. Entah tadi bagaimana cara ku mencuci, tiba – tiba semuanya sudah selesai dan tinggal di jemur. Handphone yang sejak dulu kala menjadi best friend ku, hampir setiap 10 menit aku mendapat sms. Bunyinya sama: u msk IPA ato IPS?.

Ya Allah… jika Kau memberi ku kesempatan, aku masih ingin bertemu dengan electron, listrik, dan para avertebrata… tapi jika engkau lebih mengijinkan aku dengan garis lintang dan bersama para homo sapiens dengan menjaga perilaku sosial, aku mohon…. Beri aku kekuatan untuk menerimanya. Aku ingin mengikhlaskan semuanya. Aku tak ingin terlalu memaksakan kehendak masuk IPA. Hiks…

Sekian jam aku menunggu kehadiran pakde. Astaughfirullah hal adzim…. Lama sekali dirimu!!!! Aku sudah tidak sabar menunggu hasilnya!!! Ini menyangkut hidup dan mati guee!!! (ach kog mulai lebay)
Tiba – tiba … “krrrkkk.. tuut.. fin..dicari pakde..” suara itu berasal dari pesawat radio dekat kamarku. Pemilik kost – kostan memang cukup canggih. Di halaman depan saja diberi kamera pengintai. Di setiap bagian rumah kost – kostan juga diberi radio aktif jadi bisa kapan saja berbicara dengan menekan tombol pada nomor ruangan yang tertuju. Ya, sekilas saya memang tahu banyak karena pemilik kost – kostan ini tak lain adalah bude dan pade saya. Hehehe…

“Dag… dig… dug… hmm… aduuh….. huft.. Calm down fina..!” akhirnya beberapa menit lagi aku akan mengetahui nasibku dua tahun ke depan. Ach… bukan hanya dua tahun! Tapi berpengaruh pada kuliah dan pekerjaan ku nanti. Aaaaarrrgh… give me the best God!! Please…

Jreng …jreng….

“Dek fina… ini lho rapornya…” (deg)
“hmm… iya pade.” (deg)
“SPP nya besok tambah mahal lho…” (deg)

Aku hanya bisa tersenyum. Masalah SPP mah nanti aja…! Sekarang yang gue mau cuma tulisan A atau S yang ada disebelah huruf IP !!!.... yap !! ini dia ! sekarang buku bersampul hijau ini adalah penentu jalan hidup ku. Lembar demi lembar ku buka. Naahh… kelas X – 2 semester II tahun pelajaran 2009 – 2010. Nilai test tulis… aha… naik. Alhamdulillah (tapi yang sekarang ingin kulihat bukan ini) hmm.. nilai praktek… oyeah.. naik ! alhamdulillah bangget !!! tapi please… mana keterangan IPA IPS nyaaaa… ???? nggak mungkin gua tanya pakde ‘’fina masuk IPA atau IPS, pakde?’’ gengsii caakkkk !!! harus cari sendiri… !! mana yaa…aheemm… ehh… ini ada tulisan, siswa yang tergabung kelas IPA diberi waktu 2 minggu untuk memantapkan diri dan bisa berpindah ke IPS. Maksudnya gimana ? kok nggak ada kalimat sebaliknya ya ? ya kayak menyatakan kalau IPS juga bisa pindah ke IPA gitu.. aheemm..

‘’Oya dek fina masuk kelas IPA. ‘’ (deg)
‘’Hah ? Oh, ya pakde…’’ (deg deg deg deg deg duuaaarrr…) waaaaaaaaaa…… alhamdulillah ya Allah… Engkau masih akan mempertemukan dengan hukum newton ! huwaaaa…. Senangnya hati kuuu :) ya tentu saja semua itu hanya dalam hati. Jaga image bo’… tetep pasang tampang sok cool gitu di depan keluarga pakde. Hehe… aku pun berlalu ke kamar kost setelah bercakap – cakap cukum lama.

Dan…
Penyakit lebay ku pun mulai kambuh….

Yyyyeeeeeiiiiiiiiiiiiiiiii………….. gue masukk IPA !!!!!! ahhahayyyy…. Okee coy… asyiiik asyiiikk… yipppiiii…. Hoooraaayyy…… ya Allah aku seneng bangget :D
Huft… akku jadi ternginat nadzar kuu…
‘’jika aku masuk kelas IPA, aku akan mengkhatamkan Al Quran…’’
Ok… akku ggak akan lupa… let’s do it :) hahay…

Jalan Kaki


Udah hampir setiap saya jalan kaki. Ya, mulai berangkat sekolah sampai pulang sekolah. Pertama – tama saya ingin membahas mengenai toko – toko sepanjang perjalanan yang saya temui. Depan kost – kostan, ada sebuah warung jamu kecil. Tak jauh dari situ ada warung kecil menjual snack dan aneka jus buah (café mini favorite saya karena belum pernah saya temui warung se-higienis disini). Setelah itu ada warung menjual mie, nasi, dan capjai. Tak jauh dari situ ada juga warung kecil yang menyediakan gorengan dan makanan seperti pecel dan sayur lodeh. Setelah itu di dekatnya terdapat toko kecil menjual aneka alat tulis, pulsa elektrik, dan snack. Sekitar beberapa meter kemudian ada juga warung yang menurut saya cukup besar menjual soto lamongan yang setiap harinya laris manis karena tiap saya lewat di depannya selalu ramai pembeli. Ada juga di depannya warung mini yang menjual gorengan, nasi pecel, dan sayur lodeh (lagi). Sehari – hari disana biasa dipakai tempat cangkruk mas – mas dan bapak – bapak yang ingin ngopi.
Tak jauh lagi ada juga toko pulsa yang mas penjaganya lumayan karena tampang kecina cina an, baik hati, dan tidak sombong (serius ini cak!). alasan saya bilang baik hati dan tidak sombong adalah, saya nggak nyangka ternyata si mas nya itu mengenali saya. Entah saya berjilbab maupun tidak memakai jilbab (maklum…masih awam… bila ke sekolah saya berjilbab, namun jika hanya keluar rumah untuk beli pulsa yang jaraknya nggak jauh dari kost - kostan, saya hanya memakai jaket dan celana panjang). Saya juga pernah waktu itu beli pulsa dan ternya belum terkirim di hape saya. Karena saya orangnya males, jadi saya tidak kembali ke conter tersebut. Mungkin besok. Ternyata keesokan harinya kemalesan saya kumat. Mungkin besok lagi. Dan sekali lagi saya tetap terjerat penyakit males. Huft… ya sudah ikhlaskan saja. Kemudian beberapa hari kemudian karena saya sudah sama sekali tidak mempunyai pulsa, akhirnya mau gga mau saya pergi ke conter tersebut dan membeli pulsa (lagi). Gga nyangka si mas itu langsung menanyai saya, “Dek, pulsa yang kemarin dulu itu belom masuk ya?” “Hehe… belum mas… kenapa ya?” dalam hati saya bersyukur karena tidak perlu menceritakan kembali moment tersebut dan memohon – mohon kepada mas nya untuk mencoba mengirim pulsa yang kemarin sekali lagi. Karena kalau tidak saya bakal rugi 11.000 rupiah (walau sempat berpikir untuk mengikhlaskannya tapi gga jadi kog :p). ada juga sebagian hati saya bersorak yuhuuu… ni mas nya perhatian banget sama gua!!! Mau donkk… (diperhatiin maksudnya). Kemudian si mas menjawab pertanyaan saya, “Kemarin itu sudah tak coba berkali – kali tetep belum terkirim. Mungkin nomernya keliru, coba dicek dulu ni… bener gga?” saya pun mencocokkan nomor tersebut dengan nomor yang tertera di hp saya (waktu itu saya beli pulsa buad kartu perdana saya X.. nha saya belon hafal nomornya). Ooops… ternyata nomornya tidak keliru. Kemudian si mas nya nge-sent lagi. Dan .. tuut tut tuuut tut.. pulsa 10.000 masuk. Yipiiii…. “Oh… mungkin kemarin – kemarin X lagi trouble dek.. maaf ya” “gga papa kog mas..” “jadi ini mau beli pulsa lagi apa enggak?” “ha? Eh… engga deh mas… kan udah dapet pulsanya… bayar berapa mas?” “gga usah… kan udah kemarin..” “hehe… makasih ya mas… misi…” gila… baek banget kan tu orang (meski kebaikan yang sudah sepantasnya dilakukan oleh para penjual, tapi jaman sekarang kan gga semua penjual kayag gitu) .. apa dia bersikap manis seperti itu terhadap setiap pembeli? Apa Cuma ke gue? Hehe… mulai deh… GR gue gga kebayang gedenya. Loh? Kog malah curhat gini (bukannya ni emang artikel curhat vin?) maksudnya kan topiknya ngebahas warung… malah jadi cowo conter ??!!?!?

Ok… back to warung…
Tak jauh dari conter tersebut ada warung (lagi) yang sering didatangi arek – arek kost terdekat (bukan termasuk saya). Tak jauh dari situ ada tempat praktek bidan. Nah, di depannya, ada sebuah rumah. Katanya, saya lahir di rumah tersebut. (ach… masak iya?) (tapi mama kog yang bilang!) (gga ada salahnya juga sii kalo aku lahir di situ..) (lihat tho… mungkin setelah aku lahir, rumah itu langsung ditinggal penghuninya. Karena keadaan yang saya lihat, rumah itu wis gak rupo omah… hihihi) tu kan mulai jaoh lagi nyambungnya ..sabar ya… :p

Ada lagi warung kecil menjual snack, mie instan dan aneka jus buah (tapi saya ngga suka karena terlalu murah dan saking murahnya, masak jus apokat rasanya air mineral). Sebelahnya ada penjahit, sebelahnya lagi ada foto copian yang menurut saya berkualitas tinggi… selain saya mengenal orangnya (lumayan tambah murah khusus saya), saya juga puas akan hasil hasilnya. Sebelahnya, ada warung (untuk sekian kalinya: LAGI). Nah, saya suka tempe di sini.. enyak enyak.. :D

Di seberang jalan ada juga penjual majalah dan Koran – Koran serta bensin. Sebelahnya ada conter hp juga…tapi jarang buka..si mas nya juga gga se menarik mas yang tadi (ooops.. udah lama tau tp kog gga kenal ya?) belok sedikit, ada toko roti… brrr..masuknya ber-AC.. hahay xD ..rotinya juga gurih..enak dah! Tapi ya gitu ..mahal cak!! Tak jauh dari situ, di seberang jalan ada warung soto lamongan langganan sekolah. Karena tempatnya di sebeblah sekolah saya persis. Jadi kalo mau makan soto, yang dekat ada, kenapa cari yang jaoh?!

Yah… itulah . . warung – warung yang membuat saya kelaparan setengah mati setiap kali pulang sekolah melewatinya. Kalo berangkat mah biasa aja …kan masih kenyang sarapan… lha nii… uda capek abis sekolah…sepanjang perjalanan (jalan kaki pula) selalu tercium aroma soto dan potongan ayam yang menggoda, roti dengan selai coklat yang manis, tempe hangat dengan cabe ijo yang sip banget, mie instan yang jadi makanan kebangsaan RAKYAT GAK MAU REPOT (seperti saya), sayur lodeh yang menurut saya patut si SUKAI!, kenikmatan jus apokat yang persediaan buahnya selalu terbatas, kesegaran jus jambu yang dihidangkan tanpa BIJI… huft.. sehari – hari saya hanya bisa mencium aromanya… mungkin saya membelinya ketika ada duit.. hehe.. inilah “nafsu” yang saya maksud… geje banget gga sih ??!!! gue kan Cuma pngen bikin artikel gga penting pengisi pengangguran gue.. piss mamend… (^.~)Y