Ok.. gue tggu...
Sent to: 0856xxxxxxxx
Beberapa menit kemudian Vella, temanku yang barusan sms aku, datang. Aku mengajaknya masuk ke kamar. Vella adalah DJ terkenal di sekolah. Dia adalah sahabatku. Dia menegtahui kisahku sejak lahir hingga sekarang. Dan beruntungnya, dia tidak malu berteman denganku.
“Loe ada Sound gede kan? Nge-play lagu ya?” kata Vella.
“Katanya mau ngerjaen tugas?” seruku.
“Ya udah kita kerjaen dulu. Tpi boleh kan ntar gue nyalain? Kuping gue gatel kalo nggak denger musik. Hahah...” kata Vella sambil tertawa.
Sekitar 1 jam kemudian kami selesai mengerjakan tugas membingungkan itu. Bab trigonometri yang membuat rambut – rambut ilmuwan menjadi rontok. Haha.. itulah istilahku. Entah kenyataan atau tidak aku tak peduli.
Vella langsung menyalakan laptop dan memutar lagu favoritnya. Dejavu. Volume dimaksimalkan sehingga aku sendiri tidak bisa mendengar suaraku. Untungnya kamarku sudah difasilitasi pengedap suara. Terdengar sayup – sayup seperti suara nenek yang memanggilku. Namun aku menghapus pikiran tersebut karena aku tahu nenek sedang tidur dan tidurnya nenek pasti tidak sebentar.
Beberapa menit kemudian ada suara seperti sesuatu yang terjatuh dan ada pula sesuatu yang pecah. Aku langsung menghentikan lagu Vella dan keluar kamar. Tak ada apa apa. Itulah yang aku lihat. Kemudian aku menuju kamar nenek. Kosong. Aku panik. Aku menuju tangga. Aku terkejut ketika mendapati nenek tergeletak diam di lantai bawah.
“Neneeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeek” teriakku.
---
Aku terdiam. Aku tetunduk. Aku hanya memikirkan bagaimana keadaan nenek. Tante Shila datang. Tanpa memandang ke arah ruang UGD, tante langsung menarikku dan membanting badanku ke tembok.
“Apa yang kau lakukan pada ibuku?” bentaknya. Pihak rumah sakit yang melihat adegan tersebut langsung menangkan tante. Aku dibawa menjauh dari tante. Mereka tahu pasti pikiranku dan tante sedang tidak jernih dan selimuti oleh emosi. Dan emosi tidak menyelesaikan permasalahan.
Beberapa menit kemudian dokter berkata bahwa tekanan darah nenek meninggi. Sejak lama memang nenek memiliki tekanan darah tinggi. Bodohnya, aku tidak tahu hal sepenting itu. Aku teringat pada gule kambing yang aku dan nenek makan tadi siang. Selain itu, ada retakan di tengkorak nenek. Dugaan sementara adalah karena nenek terjatuh dari tangga. Aku down. Aku lebih pantas meninggalkan nenek karena aku seperti orang yang tak tahu terima kasih.
Sesampainya di rumah...
“Kesabaranku ada batasanya. Sejak awal aku sudah menduga bahwa menerimamu di rumah ini bukanlah ide yang baik! Kau adalah anak cacat yang sengaja dibuang oleh ibumu karena keberadaanmu hanyalah membuat orang lain sial!!!!!!” seru tante Shila.
Aku yang baru datang dari rumah sakit, masuk rumah langsung disemprot hinaan itu.
“Maaf.” jawabku singkat. Lalu tiba – tiba tamparan panas mendarat di pipiku. Aku menerimanya karena hal itu masih termasuk kecil dibanding tindakanku pada nenek.
“Cuma maaf katamu? Apakah selain tak memiliki rambut kau juga tak memiliki kemampuan berbicara?” nada tante meninggi. Aku tak kuat menahan kata – kata itu. Namun aku mencoba diam.
“Masih tak ingin bicara? Apa yang sebenarnya ada di kepalamu itu Nad? Apa kau tidak sungkan merepotakan ibuku selama 12 tahun ini? Apakah kau tidak berinisiatif untuk pergi dari sini? Apa ini yang dijarkan ibumu sebelum kau dibuang kemari? Ibumu adalah wanita terbodoh karena ia masih membiarkanmu hidup!!!!!!”
“Cukuuuuuuuup!!!” aku tak mampu menahannya. Karena kini yang disalahkan bukan hanya aku, melainkan juga ibuku. “Hentikan tante! Kalau memang itu yang tante inginkan, aku akan melaksanakannya, tapi kumohon jangan pernah lagi tante mengatakan 1 hal apa pun tentang ibu saya! Tante tidak tahu apa – apa!”
“Lalu tunggu apa lagi? Kenapa tidak langsung pergi?”
“Nadia akan pergi stelah ada kepastian kabar tentang keadaan nenek. Setidaknya Nadia ingin melihat nenek membuka mata. Setelah itu, nadia akan pergi dan Nadia janji, tante dan nenek tidak akan melihat Nadia lagi.” Kataku pelan. Aku sendiri terkejut tentang apa barusan kukatakan. Jika memang aku akan pergi, mau kemanakah aku?
---
Beberapa hari kemudian nenek resmi dinyatakan sembuh dan boleh pulang, dokter memberi catatan makan apa saja yang tidak boleh dikonsumsi banyak oleh nenek. Yang lebih penting adalah, aku telah melihat nenek membuka mata. Jadi, sudah waktunya untuk aku meninggalkan tempat ini.
Tanpa nenek ketahui, aku telah meninggalkan rumah. Kini aku persis seperti gelandangan yang tidak memiliki tujuan. Aku hanya membawa beberapa stel baju dan handphone. Aku menganggap barang – barang ini adalah barang pinjaman yang suatu saat nanti harus kukembalikan.
---
Beberapa hari telah berlalu. Aku tinggal bersama Vella, sahabatku. Aku tetap bersekolah di sekolahku yang dulu. Pernah suatu ketika aku melihat nenek di sekolahku. Sepertinya nenek sedang mencariku. Sejak saat itu aku memutuskan untuk pindah sekolah. Aku bekerja sebagai pengantar koran di sebuah perumahan mewah setiap dini hari. Aku juga menjual pulsa elektrik. Mudah memang, karena tidak menyita waktu namun kadang aku jengkel karena banyak teman – temanku yang berhutang sampai berminggu – minggu. Malamnya, aku bekerja sebagai penjaga warnet. Semua ku lakukan untuk biaya sekolah dan tabungan. Tabunganku adalah untuk melunasi hutangku pada nenek dan modalku untuk menemukan ibu.
Setiap hari belajar dan terus belajar. Aku bukan siswa terpandai di sekolah. Tapi aku juga bukan siswa yang bodoh. Aku jarang sekali menghabiskan malam minggu dengan teman – teman seusiaku. Bisa dibilang aku adalah anak kuper saat itu. Karena otakku hanya terisi oleh pelajaran dan pekerjaan. Pernah suatu sore seorang lelaki tampan mengajakku berkenalan. Karena aku terlalu polos, aku mau saja diajaknya jalan – jalan. Untungnya aku berhasil lari karena saat itu dia mengajakku tidur bersama.
Dan sejak saat itu, aku benar – benar brprinsip bahwa tak ada lelaki yang baik. Namun aku salah ketika aku bertemu dengan saudara Vella, Renno. Dia baik padaku. Bahkan dia mengajariku matematika, kimia, dan fisika. Pelajaran yang membuatku pusing degan beribu – ribu bintang bernari – nari diatas kepalaku.
Suatu ketika Vella memberi tahuku bahwa nenek ingin sekali bertemu denganku. Aku tetap pada keteguhanku. Aku sudah berjanji pada tante untuk tidak akan menampakkan batang hidungku pada keluarga tersebut.
Hingga suatu hari, Vella memberiku sepucuk surat tanpa nama pengrim.
Sudah bertahun – tahun kita tak bertemu. Aku merindukanmu. Tulus dari palung hati, aku menyesal telah meninggalkanmu saat itu. Dan kini saat aku ingin kau kembali padaku, aku bahkan tidak tahu lagi dimana keberadaanmu. Ini semua salahku. Aku terlalu egois untuk disebut sebagai orang tua. Aku sangat berterima kasih apada seorang nenek yang katanya dia telah merawatmu sampai sekarang. Namun kesedihanku bertambah karena kini aku benar – benar tidak tahu apa – apa tentang dirimu. Padahal kau dalah darah dagingku. Wajahmu pasti lebih cantik dan dewasa dibanding saat kau berusia 4 tahun. Apakah kau disana masih mengingatku? Masih adakah perasaan sayangmu padaku? Dan apakah aku masih berhak dan ada kesempatan bertemu denganmu, anakku?
Aku berpikir, mungkinkah ini ibu? Dari mana Vella mendapatkan surat ini? Aku pun baru sempat membalasnya 1 bulan kemudian. Aku terlalu sibuk dengan sekolah, pekerjaan, dan pikiranku apakah benar si pengirim surat tersebut benar ibuku.
Apakah kau ibuku?
Hanya itu yang kutulis dalam 1 lembar kertas balasan. Aku tak mampu berkata apa – apa karena baru membaca saja aku sudah menangis. Beberapa hari kemudian aku mendapatkan surat balasan.
Alhamdulillah kau masih hidup... aku bahagia sekali. Nadia, nama yang cantik untukmu. Aku ibumu nak... ibu kandungmu. Aku lah wanita hina yang tega membiarkanmu hidup menderita selama ini. Ku mohon...ijinkanlah aku mengajakmu kembali ke rumah. Disini rumahmu nak... kau berhak atas ini. Jika memang kau tak bersedia, 1 hal yang kuminta terakhir darimu, aku ingin bertemu denganmu.
Air mataku mengalir. Tahukah ibu? Mimpiku selama ini adalah menemukanmu dan memelukmu. Itulah yang aku inginkan. Dulu, jangankan ibu mau memelukku, melihatku saja ibu seakan tidak sudi. Dan kini jalan terbuka lebar antara kita. Aku tak akan menyia – nyiakan kesempatan ini. Ibu, tunggu aku...
Kita bertemu di depan rumah nenek. Rabu, 2 Februari 2011 jam 4 sore.
Sepulang sekolah, aku menyempatkan membeli bunga. Ya, untuk ibu. Untuk seseorang yang ingin kutemui sore ini. Aku menyiapkan semua uang tabunganku untuk melunasi hutangku pada nenek. Aku melakukan semua dengan semaksiamal mungkin karena hari ini adalah hari yang ku tunggu – tunggu sejak 13 tahun yang lalu.
Semua sudah siap. Aku memakai sepatu terbaikku. Baju terbaikku. Dan jilbab terbaikku. Aku berjalan menelusuri jalan setapak. Kemudian aku naik bajaj. Suara bising perkotaan ditambah knalpot bajaj yang memekikkan telinga tak jadi masalah. Seakan semua bercampur menjadi suatu musik yang indah mengiri pertemuanku dengan ibuku, dan nenek.
Sesampainya didepan rumah nenek. Aku terdiam. Aku teringat memori tahun lalu ketika aku masih di sana. Aku tersenyum. Semua seperti dalam sinetron – sinetron dengan aku sebagai tokoh utamanya. Aku tak melihat ada wanita disini. Ach... nungkin ibu masuk ke dalam rumah nenek. Pikirku. Aku pun menyebrang jalan untuk menuju rumah indah tersebut. Kemudian datang suara berat seorang wanita setengah baya yang memanggilku.
“Nadia?” katanya.
Aku menoleh. Diakah ibuku? Aku merasa tubuhku kaku. Ya. Dia ibuku. Dia melambaikan kedua tangannya padaku. Aku ingin membalas dengan senyum namun terlambat karena telingaku mendengar suara klakson yang semakin keras. Kemudian semuanya gelap.
---
Apakah ini surga? Kudengar seseorang menerikkan namaku. Nadia. Suara itu seperti pernah kudengar. Tiba – tiba aku merasa tubuhku perih. Aku membuka mata. Dia. Dia ibuku. Dia memelukku.
“Aku ibu nak...” katanya dengan suara parau dan tangisan tersedu – sedu.
Aku tersenyum kemudian aku berusaha mengucapan kata – kata, “Aaaku.. sayang ibu. Laa ilaha illallah...” kemudian mataku memaksa tertutup. Aku pun tak dapat merasakan lagi apa yang ada di sekitarku. Ya Tuhan... terima kash telah membuat mimpiku menjadi nyata. Aku bahagia.