Rabu, 02 Maret 2016

Konsep Desain High-Rise Building

A. Pendekatan Arsitektur
Konsep desain yang diterapkan pada bangunan mixed use merupakan konsep neo modern. Dengan menerapkan konsep ini maka bangunan mixed use akan memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

  1. Memiliki konsep yang spesifik seperti bangunan-bangunan postmodern aliran lainnya pada umumnya. Dapat bersifat abstrak tetapi juga merepresentasikan sesuatu, tidak hanya sebagai stilasi dari suatu bentukan tertentu.
  2. Masih memperlihatkan kejelasan struktur dan sainsnya dengan ide-ide yang inovatif, beralasan dan masuk akal.
  3. Pertimbangan yang sangat mendasar terhadap karakter bangunan dengan tetap memperhatikan segi manusia yang menggunakannya.
  4. Pada umumnya merupakan pengembangan / lanjutan dari bentukan-bentukan sederhana melalui konsep-konsep dan rekayasa baik secara karakter bangunan maupun fungsi struktur serta sains dengan pemikiran yang mendalam.
  5. Keseragaman dan keserasian pada facade bangunan lebih diutamakan dengan penggunaan bahan dan warna terkadang bersifat monoton namun inovatif. 
  6. Memadukan unsur-unsur yang berkesan mungkin dan yang tidak mungkin.


Neomodern Aliran High-tech
Gambar 1. Contoh Bangunan Aliran High-Tech
Sumber : Literatur

Untuk mengungkapkannya konsep Neomodern dapat dilakukan dengan memanfaatkan bentuk, penggunaan material dan warna serta struktur dan teknologi yang membuat Neomodern berkembang juga menjadi beberapa aliran dan dengan berbagai pertimbangan maka aliran Neomodern yang akan diterapkan yaitu aliran High-tech.

A.1 Struktur dan Servis aliran High-tech
Struktur dan servis yang diekspos merupakan hal yang paling mencolok pada high tech arsitektur. Struktur baja dalam arsitektur high tech menjadi struktur yang ekspresif, baja merupakan salah satu material bangunan yang memiliki daya tegang yang kuat dan mampu memerikan kesan dramatis pada elemen bangunan.

A.2 Ruang dan Fleksibilitas aliran High-tech
Elemen-elemen pada bangunan high tech seperti rangka struktur baja, pipa yang di ekspos juga ducting ac telah memberikan ekspresi yang kuat dilihat dari fungsi teknisnya. Ruang tidak bisa hanya memiliki satu fungsi karena keseluruhan desain dirancang untuk fleksibilitas.

Elemen servis dan struktur pada suatu bangunan high tech hampir selalu diperlihatkan di eksterironya sebagai ornament dan sclupture. Bangunan high tech juga diperlihatkan dengan menggunakan kaca buram maupun transparan, ducting yang saling tumpang tindih, tangga, escalator dan lift juga warna– warna cerah yang bertujuan membedakan fungsi masing – masing elemen struktur dan servis.

  1. Inside-out (penampakan bagian luardalam). Pada bangunan high tech, struktur, area servis dan utilitas dari suatu bangunan hampir selalu ditonjolkan pada eksteriornya baik dalam bentuk ornament ataupun sculpture.
  2. Celebration of Process (keberhasilan suatu perencanaan). High tech menekankan pada pemahaman konstruksinya, bagaimana, mengapa dan apa dari suatu bangunan. Di antaranya hubungan dari struktur, pemakuan, flanges, dan pipa-pipa salurannya, sehingga dapat dimengerti, baik oleh orang awam maupun para ilmuan.
  3. Transparancy, Layering, and Movement (transparan, pelapisan dan pergerakan). Bangunan high tech selalu menampilkan ketiga unsur ini semaksimal mungkin. Karakter dari bangunan high tech dapat dilihat pada penggunaan yang lebih luas material kaca (transparan dan tembus cahaya), pelapisan pipa-pipa jaringan utilitas (layering), alat transportasi bangunan seperti tangga, eskalator atau lift (movement).
  4. Flat Bright Colouring (pewarnaan yang menyala dan merata). Warna cerah yang digunakan dalam bangunan high tech memiliki makna asosiatif, di samping dari segi fungsionalnya untuk membedakan jenis struktur dan utilitas bangunan. Warna kuning, merah, biru yang cerah merupakan warna dari mesin-mesin industri, mobil, kapal, traktor, dan benda-benda teknologi masa sekarang.
  5. A Lightweight Filigree of Tensile Member (baja-baja tipis sebagai penguat). Baja-baja tipis yang bersilangan diibaratkan sebagai kolom Doric bagi high tech, dilihat dari penampakan dan penyusunannya. Pengekspresian dan pengaplikasian menurut hierarki yang menjadikan kejelasan dari bagian-bagian tersebut. Landasan pemikiran yang luas pada kreasi adalah dalam pembentukan elemen yang mudah dan logis, mudah penyimpanannya serta mudah pemasangannya.
  6. Optimistic Confidence in Scientific Culture (optimis terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi). Penggunaan high tech merupakan harapan di masa yang akan datang, meliputi penggunaan material, warna dan penemuan-penemuan baru lainnya.


Secara singkat dapat disimpulkan aliran high-tech adalah :
  1. Arsitektur yang bermaterial utama kaca dan baja.
  2. Mengekspresikan ‘kejujuran’ suatu bangunan yang ditampilkan melalui struktur dan MEE yang diekspose
  3. Biasanya membutuhkan ide-ide tentang produksi industri.
  4. Digunakan oleh industri-industri lainnya tidak hanya sebagai bangunan namun juga sebagai sumber imajinasi.

Arsitektur neomodern aliran high tech dipilih sebagai konsep desain setelah melalui beberapa pertimbangan. Walaupun arsitektur high-tech cenderung dikatakan sebagai arsitektur yang ‘mahal’ , tetapi pada penerapannya tujuan utama dari arsitektur high tech adalah untuk memudahkan aktifitas manusia. Jadi yang diutamakan bukanlah penggunaan elemen-elemen berteknologi tinggi dalam bangunan, tetapi elemen-elemen arsitektural lebih ditonjolkan agar lebih mudah dimengerti fungsi dan pengunaannya oleh pemakainya.
Tujuan dari penerapan arsitektur high tech yakni menampilkan unsur-unsur teknik bangunan yang kemudian diekspos sehingga aspek-aspek tekniklah yang akan menciptakan estetika dari bangunan. Pada dasarnya arsitektur high tech dalam penerapannya selain menekankan pada kecanggihan teknologi juga mengguunakan elemen-elemen struktural yang sangat dominan dengan material pabrikasi pada elemen interior, eksterior maupun struktur dan utilitas banguna. Dalam arsitektur high tech , penggunaan warna-warna mencolok pada tiap elemen arsitektural juga diterapkan untuk membedakan fungsi dari tiap elemen arsitektural agar lebih mudah dimengerti penggunaannya oleh pemakai.
Selain hal-hal yang tersebut di atas, teknologi sebagai ilmu pengetahuan mempunyai sifat –sifat yang juga digunakan sebagai pertimbangan, antara lain :
• Obyektif dan Universal. Tidak memihak pada suatu aliran tertentu maupun budaya tertentu.
• Rasional. Landasan adalah berpikir logis.
• Tegas dan Jelas. Sesuai dengan syarat pembuktian yang empiris.
• Sistematis dan akumulatif. Sifat rasional dan empiris membentuk kerangka piker yang sistematis.
• Tumbuh, selalu berkembang. Teknologi akan selalu mengalami perkembangan dan tidak pernah berhenti disebabkan karena sifat kritis dan perkembangan pola pikir manusia yang mendasari perkembangan ini.
• Terbukan dan Jujur. Mekanisme mengutamakan unsure-unsur kebenaran yang terlibat diungkap secara jelas sehingga terbuka terhadap kemungkinan penilaian, dukungan ataupun sanggahan
• Dimanis dan Progresif. Sifat yang senantiasa berkembang dan bergerak selalu meneliti dan mencari serta menemukan hal yang baru.

A.3 Metode Traces Of Memory
Diantara beragam metode yang digunakan dalam Neomodern, maka metode terpilih yang diterapkan dalam bangunan mixed-use yaitu metode traces of memory. Metode metode traces of memory bertujuan menciptakan suatu karya arsitektur yang mencerminkan masa lampau (the past), masa kini (the present), bahkan masa depan (the future) dalam satu kesatuan yang tak terpisahkan. Diperlukan adanya pengetahuan langsung dari arsitek yang mendisain untuk mengetahui konsep memori tentang apa yang direpresentasikan oleh bangunan sehingga dapat terlihat hubungannya dengan memori-memori tersebut.

Seperti yang telah disebutkan di atas, metode traces of memory bertujuan menciptakan karya arsitektur yang mencerminkan masa lampau (the past), masa kini (the present), bahkan masa depan (the future) dalam satu kesatuan yang tidak terpisahkan agar karya aristektur yang dihasilkan akan menjadi sangat menarik. Oleh karena itu, perencanaan dan perancangannya harus dilaksanakan dengan sematang mungkin agar ketiga masa tersebut dapat tercermin pada sebuah karya arsitektur sehingga karya tersebut tidak akan hanya menjadi sebuah bangunan melainkan juga sesuatu yang bermakna dan bersifat historis diiringi dengan kecanggihan teknologi yang menunjukkan masa depan.

Penerapan metode traces of memory akan menjadi kelebihan karya arsitektur dan mampu menarik perhatian. Bagaimanapun juga metode ini harus dapat dimengerti oleh pemakai sehingga penerapannya tidak sia-sia. 


B. Pendekatan Green Building
Bangunan hijau (Green Building) mengacu pada struktur dan menggunakan proses yang bertanggung jawab terhadap lingkungan dan sumber daya yang efisien diseluruh siklus hidup bangunan.


Gambar 2. Logo Green architecture
Sumber : google.com

Dari penentuan tapak sampai desain, konstruksi, operasi, pemeliharaan, renovasi pembongkaran. Praktik ini memperluas dan melengkapi desain bangunan klasik keprihatinan ekonomi, daya tahan utilitas,, dan kenyamanan. Dalam mendesain beberapa aspek pendekatan bangunan hijau yang dapat dicapai dalam desain antara lain:

(a) Bentuk dan Orientasi Bangunan
Bentukan masa bangunan yang kontekstual terhadap tapak serta memperhatikan arah hadap dan orientasi peredaran matahari menjadi hal penting dalam desain bangunan hijau. Bentuk massa bangunan yang tipis, baik baik secara vertikal maupun horizontal dapat didesain agar mampu menjadi shader bagi sisi bangunan dibawahnya sehingga dapat membuat bagian tersebut menjadi lebih sejuk. Desain gedung seyogyanya memiliki area opening yang lebih banyak disisi timur . Hal ini dikarenakan cahaya pada sore hari (matahari barat) lebih bersifat panas dan menyilaukan. Selain itu, orientasikan bangunan menghadap utara dan selatan agar dapat terjadi crossventilation. Karena dengan crossventilation sirkulasi pergantian udara lebih maksimal. Sehingga dapat mengurangi beban dari penggunaan AC.

(b) Shading dan Reflektor
Shading light self bermanfaat mengurangi panas yang masuk kedalam gedung namun tetap memasukan cahaya dengan efisien. Dengan light self , cahaya yang masuk kedalam bangunan dipantulkan ke ceilling . Panjang shading pada sisi luar light self ditentukan sehingga sinar matahari tidak menyilaukan aktifitas manusia didalamnya. Shading dan reflektor ini dapat dimanfaat pada apartemen dan Rent Office  karena dua fungsi bangunan ini membutuhkan gedung yang cukup tinggi. Ditambah dengan lokasi site yang berada di jalan arteri Soekarno Hatta yang hawanya cukup panas. Sehingga membutuhkan sebuah pelindung untuk mengurangi panas matahari. Dengan cara ini beban penggunaan dari AC dapat berkurang karena sedikit panas yang masuk ke dalam ruangan. 

(c) Sistem Penerangan
Sistem penerangan dalam bangunan menggunakan intelegent lighting system yang dikendalikan oleh main control panel sehingga nyala lampu dimatikan secara otomatis oleh motion sensor & Lux sensor. Dengan begitu , penghematan energi dari penerangan ruang akan mudah dilakukan.
Penerapan sistem penerangan yang seperti ini sangat berguna bagi bangunan mixed use karena bangunan yang cukup besar dan memiliki banyak lantai.  

(d) Water Recycling System
Water recycling system berfungsi untuk mengolah air kotor dan air bekas sehingga dapat digunakan kembali untuk keperluan flushing toilet ataupun sistem penyiraman tanaman. Dengan sistem ini, penggunaan air bersih dapat dihemat dan menjadi salah satu aspek penting untuk menunjang konsep green building. Sistem ini dapat diterapkan di apartemen, Rent Office dan juga mall. Karena beban kebutuhan airnya sangat besar. 


B. 1 Material
Material yang digunakan untuk membangun harus diperoleh dari alam, dan merupakan sumber energi terbarukan yang dikelola secara berkelanjutan. Daya tahan material bangunan yang layak sebaiknya teruji, namun tetap mengandung unsur bahan daur ulang, mengurangi  produksi sampah, dan digunakan kembali atau didaur ulang. 
Dalam aplikasinya ke dalam desain bangunan mixed use ini, kita dapat menggunakan baja ringan dan alumunium. Rangka atap dan bangunan dari baja memiliki keunggulan lebih kuat, antikarat, antikeropos, antirayap, lentur, mudah dipasang, dan lebih ringan sehingga tidak membebani konstruksi dan fondasi, serta dapat dipasang dengan perhitungan desain arsitektur dan kalkulasi teknik sipil.
Kusen jendela dan pintu juga sudah mulai menggunakan bahan aluminium sebagai generasi bahan bangunan masa datang. Aluminium memiliki keunggulan dapat didaur ulang (digunakan ulang), bebas racun dan zat pemicu kanker, bebas perawatan dan praktis (sesuai gaya hidup modern), dengan desain insulasi khusus mengurangi transmisi panas dan bising (hemat energi, hemat biaya), lebih kuat, tahan lama, antikarat, tidak perlu diganti sama sekali hanya karet pengganjal saja, tersedia beragam warna, bentuk, dan ukuran dengan tekstur variasi (klasik, kayu).
Kehalusan permukaan dan warna bahan bangunan sangat menentukan iklim mikro di sekitar bangunan, warna cerah dan permukaan licin adalah pemantul sinar matahari yang baik dan menaikkan suhu sekitar. Warna gelap dan permukaan kasar akan membantu meredam dan menyerap sinar dan panas matahari. Bahan bangunan berpori mudah meluncurkan panas dan meluncurkannya kembali jika suhu udara disekitarnya menurun. Sangat bijaksana jika memanfaatkan bahan-bahan bangunan alami seperti aslinya untuk pelapis dinding dan lantai luar.

B. 2 Energi
Penerapan panel surya diyakini dapat mengurangi biaya listrik bangunan. Selain itu , bangunan juga selayaknya dilengkapi jendela untuk menghemat penggunaan energi, terutama lampu dan AC. Green Building juga harus menggunakan lampu hemat energi, peralatan listrik hemat energi, serta teknologi energi terbarukan, seperti turbin angin dan panel surya.
Penerapannya dalam desain untuk bangunan mixed use yang di desain dapat menggunakan lampu dan peralatan listrik yang hemat energi. Selain itu penggunaan panel surya yang memanfaatkan tenaga surya akan sangat bermanfaat dalam membantu beban energi yang dibutuhkan dalam bangunan mixed use.

B. 3 Kesehatan
Karena bangunan mixed use yang didesain adalah bangunan yang memiliki fungsi residensial, perkantoran dan perdagangan jasa maka sangat penting untuk memilih setiap bahan bangunan dan furniture yang tidak beracun,  bebas emisi , atau non-VOC (senyawa organik yang mudah menguap), dan tahan air untuk mencegah datangnya kuman dan mikroba lainnya. Kualitas udara dalam ruangan juga dapat ditingkatkan mealui sistem ventilasi dan alat-alat pengatur kelembaban udara. Green Building menyehatkan untuk manusia , hal ini dipengaruhi oleh tingkat kelembaban udara, ventilasi yang sangat memadai dan filtrasi udara.

Gambar 3. Bangunan Green Architecture
Sumber : Literatur

Konsep green building tentu saja dipilih karena green building ini memiliki banyak manfaat yang akan berdampak baik bagi beberapa aspek. Adapun manfaat green building adalah sebagai berikut :
  1. Memadukan unsur-unsur keindahan dan fungsi arsitektur yang ada dengan unsur-unsur lingkungan hidup. Untuk menjaga keseimbangan antar pembangunan dan pelestarian. Karena istilah pembangunan identik dengan pengrusakan terhadap ekosistem, tetapi dengan perpaduan yang ada dapat terus membangun sekaligus menjaga keseimbangan (kelestarian) dalam ekosistem tersebut.
  2. Menghemat biaya pemakaian energi (terutama di mall-mall dan perkantoran) seperti penggunaan AC, pemakaian lampu, air dan lain sebagainya. Dengan penghematan yang dilakukan akan mengurangi energi panas dan CO₂ yang terlalu cepat dilepaskan dalam suatu sistem, yang dapat memicu pemanasan global.
  3. Meminimalisasi kemungkinan terjadinya hujan asam.
  4. Menciptakan ruangan yang sehat, nyaman dengan kualitas udara yang baik. Selain ventilasi dan pencahayaan, Green Building menambah kenyamanan dengan menaruh tanaman dalam ruangan misalnya sensivera, guna menyerap zat-zat polutan/radiatif yang dihasilkan oleh cat, vernis, alat-alat elektronika, asap rokok dan lain sebagainya.
  5. Meminimalisasi limbah-limbah hasil produksi / pembangunan, guna mengurangi pencemaran lingkungan, baik pencemaran air, pencemaran tanah dan pencemaran udara.
  6. Memaksimalkan fungsi material/bahan bangunan yang ada dan pemanfaatan kembali (recycle) bahan-bahan sisa yang masih dapat dipakai guna melestarikan sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui.
  7. Menciptakan kota yang hijau dan asri pada umumnya dan suatu lingkungan dan sehat pada khususnya. Ini direalisasikan dengan teknik Green Roofing, taman dan kolam di atas bangunan, sebagai sarana penyejuk dan juga pengganti lahan hijau yang hilang akibat pembangunan berkelanjutan tanpa memperhatikan kaidah-kaidah keseimbangan alam.


C. Pendekatan Preseden
Kekhasan
Konsep Kenzo Tange dalam menghasilkan sebuah karya adalah merancang bangunan yang modern dengan tetap memiliki unsur tradisional jepang. Menurut Tange terdapat persamaan karakter antara arsitrektur modern dan arsitektur tradisional Jepang, yaitu kesederhanaan, standarisasi, keterbukaan, keruangan, dan kehampaan. Standarisasi dan kesederhanaan menjadi sesuatu yang formal, sedangkan keterbukaan dan kehampaan menjadi sesuatu kekurangan, misal suatu kekurangan menghadapi iklim dan cuaca. Kekhasan dari karya Tange adalah selain mengakar ke tradisi Jepang,juga mengakar ke Agama yang banyak dianut masyarakat Jepang yaitu Shinto dan Budha yang mengacu pada bangunan sederhana dengan gaya-gaya modern  yang didominasi oleh para arsitek Eropa Barat sehingga menjadikan Kenzo Tange sangat populer di kalangan dunia arsitektur.

Prinsip arsitektur tradisional Jepang adalah kesederhanaan. Tange menerapkan dalam karyanya dengan cara menonjolkan elemen konstruksi yang sekaligus berfungsi estetik. Elemen beton dan kayu sebagai sistem struktur sama-sama diekspose . Kontras antara permukaan beton yang kasar dan permukaan balok vertikal yang halus, juga bidang halus putih dan kaca yang berwarna gelap menjadikan tampak yang mengesankan.


TRADISI DENGAN NAFAS MODERN
Arsitektur tak sekedar berbentuk kotak, tapi mesti menyentuh emosi manusia, dari mulai display jendela kecil sampai bangunan besar di pinggir jalan. Trend Post-Modernism tak lagi sekedar campuran ekletik dari elemen estetik. Antara modern dan klasik. Antara Timur dan Barat. Tange giat mencari petunjuk, meski sangat kecil dan tidak mudah, untuk menjawab semua tantangan desain.

Tiga elemen yang sering dibahas Tange adalah manusia, emosi dan elemen sensualnya yaitu teknologi pintar dan struktur ruang. “Melalui studi lebih lanjut”, ujar Tange,”kita yang ada di era arsitektur transisi sekarang akan menemukan gaya baru yang lebih cocok, sehingga tiga elemen tadi bisa terekspresikan dalam sebuah sistem yang konsisten”.
Arsitek yang kerap memberi sentuhan personal pada karya futuristiknya ini salah satu arsitek terpenting abad 20. Spesialisasinya, memadukan gaya tradisional Jepang dengan nafas modern, yang diaplikasikan pada banyak bangunan penting di lima benua. Talenta, energi dan karir cukup panjang dari seorang Kenzo  mengantarkannya menjadi klasik. Dalam menyiapkan desain, Tange senantiasa menggali, mengangkat, menampilkan bentuk-bentuk peninggalan kuno yang terlupakan menjadi adikarya yang mempesona.

Selasa, 01 Maret 2016

Penelitian Arsitektur - Rumah Susun


#Share #Tugas
By the way ini perbaikan penelitian yang sebelumnya sudah saya posting dengan pembahasan Evaluasi Pasca Huni. Terdapat perbedaan yang cukup signifikan mengingat metode penelitian yang saya gunakan berubah dari yang semula penelitian kualitatif menjadi penelitian kuantitatif. Semoga bermanfaat :)



PENGARUH RUMAH SUSUN TERHADAP
PERTUMBUHAN SARANA DAN PRASARANA KOTA 
(Studi Kasus: Rusunawa Pekunden, Semarang Tengah) 
Disusun untuk memenuhi tugas besar Mata Kuliah Metodologi Riset Arsitektur



DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN
1.1.       Latar Belakang
1.2.       Rumusan Masalah
1.3.       Tujuan dan Sasaran Penelitian
1.4.       Sasaran Penelitian
1.5.       Batasan Penelitian
1.6.       Ruang Lingkup Penelitian
1.7.       Manfaat Penelitian
1.8.       Sistematika Penelitian

BAB II  TINJAUAN PUSTAKA
2.1        Pengertian Rumah Susun
2.2        Perkembangan Rumah Susun Sederhana
2.3        Kondisi Eksisting Rumah Susun Pekunden Semarang Tengah
2.4        Teori Perencanaan Sarana Dan Prasarana Kota
2.5        Teori Dan Dasar Hukum
2.5.1     Hierarki Rencana Tata Ruang Kota
2.6        Kerangka Teoritik
2.7        Hipotesis
2.8        Penelitian Tentang Rusun, Sarana Dan Prasarana
2.8.1     Pengaruh Ketersediaan Sarana Dan Prasarana Terhadap Kemiskinan Di Kabupaten Lima Puluh Kota, Alex Oxtavianus
2.8.2     Sistem Informasi Pengolahan Data Sarana Dan Prasarana Wilayah Kota Cirebon
2.8.3     Analisis Efektivitas Dan Efisiensi Pada Rusunawa Mranggen (GEMAWANG 3)

BAB III METODE PENELITIAN
3.1       Metode Pendekatan
3.2       Rancangan Kegiatan Penelitian
3.2.1    Tujuan dan Hipotesis
3.2.2    Kerangka Dasar Penelitian
3.2.3    Metode Pengambilan Sampel
3.2.4    Metode Pengumpulan Data
3.3       Metode Analisis
3.3.1    Analisis Statistik Deskriptif
3.3.2    Analisis Statistik Korelasi Sederhana Pearson dan Regresi Linier Sederhana
3.4       Teknik Penyajian Data Dan Informasi

DAFTAR PUSTAKA




BAB I PENDAHULUAN


Pengembangan Rusunawa (Rumah Susun Sederhana Sewa) kini tengah digencarkan oleh pemerintah tepatnya Kementerian Perumahan Rakyat. Pembangunan Rusunawa di seluruh Indonesia  masuk  kedalam  salah  satu  program  pemerintah  pusat  yang  di kenal dengan nama “Program Seribu Tower”. Program ini merupakan salah satu kebijakan strategis yang dianggap tepat karena melihat pertumbuhan penduduk Indonesia yang cukup pesat pertahunnya. Diketahui rata – rata pertumbuhan  penduduk  Indonesia  adalah  2,5  %  per-tahun  maka  sampai tahun 2025 menurut ahli demografi jumlah penduduk Indonesia akan mencapai dua kalilipat dari jumlah sekarang. Karena itu diperlukan suatu perencanaan jangka panjang kedepan untuk mengantasipasi kebutuhan penduduk akan permukiman atau hunian.
Alasan utama pembangunan rumah susun adalah efesiensi pemanfaatan lahan untuk menghasilkan pola hunian yang lebih teratur dan baik (Kisnarini, 2009).Maka alasan pentingnya pengadaan perumahan secara vertikal adalah keterbatasan lahan di perkotaan, pelaksanaan lebih efisien, terawatnya lingkungan, penyusunan yang lebih praktis serta penyediaan sarana prasarana lingkungan yang efisien.
Keseriusan Pemerintah akan pentingnya rumah susun diwujudkan dengan adanya Undang-undang No. 16 Tahun 1985, tentang Rumah Susun, yang dilanjutkan dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah No. 4 tahun 1988, tentang Rumah Susun. Pembangunan rumah susun berlandaskan pada asas kesejahteraan umum, keadilan dan pemerataan, serta keserasiandan keseimbangan dalam perikehidupan.
Pada titik yang telah direncanakan Pemerintah untuk membangun rumah susun tersebut dapat membentuk sebuah kebutuhan penghuni akan fungsi luar bangunan sebagai kegiatan pendukung. Seiring dengan meningkatnya jumlah penghuni pada suatu rumah susun, maka kawasan itu merupakan kawasan berkembang yang harus memanfaatkan  struktur fisik suatu lingkungan berupa fungsi primer, sekunder, tersier, dan seterusnya. Fungsi utama dalam suatu space merupakan fungsi dasar sebagai hasil  perancangan, namun  karena  dalam  pelayanannya mempunyai efek negatif dan dapat dimanfaatkan oleh fungsi lain, sehingga muncul fungsi sekunder dari space tersebut. Pengenalan terhadap fungsi primer dan fungsi laten perlu dilakukan, karena fungsi tersebut harus berjalan dengan baik, apabila tidak berjalan dengan baik maka space akan dapat berubah fungsi atau menjadi space yang tidak berguna (lost space).
Untuk mendapatkan fungsi yang efektif terhadap suatu lingkungan adalah adanya perbedaan area, masing- masing mempunyai perbedaan fasilitas satu sama lain yang saling menunjang. Pembentukan fungsi merupakan tujuan dari pembangunan yang dilakukan sebagai pemenuhan kebutuhan terhadap kegiatan yang dilakukan oleh manusia, standar dan panduan  perencanaan  merupakan  alat  untuk  menetralisir  terwujudnya massa dan ruang agar aktivitas manusia dapat berlangsung.
Sarana dan prasarana sebagai fasilitas yang membantu bergerak dari ruang satu ke ruang yang lain harus bersifat teratur dalam pelaksanaannya dan dapat menunjang kebutuhan penduduk. Pada kawasan Semarang Tengah terdapat Rumah Susun Pekunden dengan tipe unit untuk kalangan menengah ke bawah. Rumah Susun ini tergolong memiliki tipe unit yang terbesar dibanding rumah susun di Semarang lainnya, yaitu terdapat tipe 27, 54, dan 81 dengan biaya sewa Rp 40.000,00 – Rp 210.000,00 setiap bulannya. Setiap penghuni rumah susun tersebut tentu melakukan aktivitas keluar-masuk setiap hari. Jika pemerintah menempatkan rumah susun tersebut untuk ditinggali penduduk maka perlu direncanakan pula sarana dan prasarana untuk menunjang aktivitas mereka. Pemilihan jenis fasilitas ini yang menjadi hal penting untuk menciptakan sirkulasi yang tepat dan hemat serta aktivitas kota yang teratur.
Sebagian besar Penduduk Indonesia khususnya Semarang memilih untuk memiliki kendaraan pribadi dengan alasan lebih efisien dalam biaya dan waktu. Tentunya hal ini menjadi PR bagi pemerintah karena prasarana transportasi umum yang tersedia secara tidak langsung dapat dikatakan belum memenuhi kebutuhan penduduk. Sarana dan prasarana yang ada tidak dapat termanfaatkan dengan baik dan jika dibiarkan seiring waktu dapat mati dan timbul kelangkaan. Tidak menutup kemungkinan bahwa sarpras yang telah terabaikan tersebut memang sepantasnya perlu diganti karena perkembangan jaman. Permasalahan di atas itulah yang membutuhkan suatu kajian lebih mendalam mengenai titik di kawasan yang terdapat / diadakannya pembangunan Rumah Susun untuk pengidentifikasian kegiatan untuk perencanaan sarana dan prasarana yang dibutuhkan pada era globalisasi ini.

Adapun yang menjadi pertanyaan penelitian dalam penelitian ini adalah:
a.       Sarana dan prasarana apa sajakah yang telah tersedia di daerah Rusunawa Pekunden?
b.      Bagaimana kondisi eksisting sarana dan prasarana daerah Rusunawa Pekunden?
c.      Bagaimana respon penghuni rumah susun terhadap sarana dan prasarana yang ada dalam menunjang aktivitas bekerja dan belajar mereka?
d.      Sarana dan prasarana apa sajakah yang sedang dalam tahap pembangunan dan perencanaan di daerah itu?
e.       Apakah benar ada pengaruh dan bagaiamana pengaruh adanya rumah susun terhadap pertumbuhan sarana dan prasarana di Kota Semarang Tengah dan seberapa besarkah pengaruhnya?

Tujuan  penelitian  ini  adalah  untuk  membuktikan kebenaran adanya pengaruh dan bagaimana pengaruh yang ditimbulkan adanya rumah susun terhadap pertumbuhan sarana dan prasarana di Kota Semarang Tengah, sehingga dapat diketahui jenis-jenis fasilitas dengan resolusi besarannya yang diperlukan. Pada lingkup yang lebih besar, perencanaan sarana dan prasara yang tepat ini memiliki potensi dan aset yang sangat besar terhadap perkembangan Kota Semarang yang teratur karena dapat mengendalikan jumlah kendaraan pribadi.

Untuk  mencapai  tujuan  penelitian  maka  perlu  dicapai  sasaran-sasaran seperti diuraikan di bawah ini:
a.       Identifikasi sarana dan prasarana apa sajakah yang telah tersedia di daerah Rusunawa Pekunden, Semarang Tengah,
b.      Identifikasi kondisi sarpras eksisting di daerah Rusunawa Pekunden, Semarang Tengah,
c.       Identifikasi karakteristik rumah susun melalui pengamatan lapangan dan studi pustaka,
d.      Analisis pertumbuhkembangan sarana dan prasarana yang terjadi dengan adanya rumah susun.
e.       Analisis pengaruh adanya rumah susun terhadap pertumbuhkembangan sarana dan prasarana melalui pengamatan lapangan dan teori-teori yang terkait.

Penelitian ini dibatasi pada hal-hal sebagai berikut :
1.      Rumah susun yang menjadi obyek dalam penelitian ini adalah Rusunawa Pekunden, Semarang Tengah.
2.      Lokus Penelitian membahas analisis sarana dan prasarana yang terdapat di sekitar kawasan Rusunawa Pekunden dengan batasan khusus di Semarang Tengah.

Ruang lingkup penelitian meliputi ruang lingkup wilayah, aspek-penelitian dan substansinya. Penelitian ini dilakukan pada rumah susun sederhana dengan mengambil lokasi studi pada Rusunawa Pekunden, Semarang Tengah. Rusunawa ini merupakan rumah susun dengan retribusi terbesar pada Dinas Tata Kota dan Perumahan Semarang.
Substansi  keilmuan  yang akan  digunakan  untuk  membantu  mengidentifikasi dan menganalisis pengaruh fungsi rumah susun terhadap pertumbuhkembangan sarana dan prasarana adalah  teori  mengenai tujuan pembangunan rumah susun, konsep pemilihan dan penyebaran sarana dan prasarana kota, sirkulasi kota serta dukungan dari teori Arsitektur dan Perilaku Manusia.

Manfaat penelitian ini secara teoritis diharapkan dapat menjadi referensi dan pedoman dalam melakukan penelitian yang sama di waktu yang akan datang. Penelitian ini juga diharapkan memberikan kontribusi dalam perkembangan Ilmu Arsitektur, khususnya terhadap teori-teori pengaruh pembangunan terhadap pertumbuhan sarana dan prasarana.
Konsep yang dihasilkan dalam penelitian ini diharapkan bermanfaat secara praktis yang dapat digunakan dan diterapkan oleh praktisi dan perencana sarana dan prasarana diwaktu yang akan datang. Penelitian ini juga diharapkan menjadi masukan kepada pemerintah dalam memantapkan program pengembangan sarana dan prasarana di Indonesia.


BAB I PENDAHULUAN
Bab ini berisi uraian tentang latar belakang, perumusan masalah, maksud dan tujuan, sasaran, batasan, ruang lingkup, manfaat, dan sistematika pembahasan.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Dalam bab ini menguraikan tentang pengertian rumah susun, perkembangan rumah susun sederhana, teori perencanaan sarana dan prasarana kota, teori-teori dan dasar hukum yang terkait dengan penelitian, dan beberapa penelitian terdahulu yang melatarbelakangi peneltian ini.
BAB III METODE PENELITIAN
Bab ini berisi uraian tentang desain studi, metode pengumpulan data, deinisi operasional, indikator variabel, metode-metode analisis, pendekatan model, dan hipotesis.




Pengembangan Wisata Alam (Bab I)

#Share #Tugas
Menyusun Landasan Program Perencanaan dan Perancangan Arsitektur (LP3A) dengan studi kasus Curug Lawe yang berada di Kawasan Gunung Ungaran di Semarang.


BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang Masalah
Pariwisata kini menjadi salah satu kebutuhan pokok bagi masyarakat jaman sekarang, dan bagi pemerintah kini sektor pariwisata menjadi salah satu yang diunggulkan dan banyak dimunculkan di berbagai tempat berpotensial wisata, karena bila ditinjau dari keuntungan pengadaan pariwisata, salah satu keuntungannya adalah dengan jalan pariwisata perekonomian daerah hingga pusat mengalami peningkatan secara signifikan. Hal yang membuat pariwisata kini telah menjadi kebutuhan bagi masyarakat adalah, dengan pertumbuhan penduduk yang semakin bertambah tingkatan untuk dapat memenuhi kebutuhan juga semakin bertambah yang bertolak belakang dengan kondisi lapangan serba terbatas, sehingga menimbulkan ketegangan bagi masyarakat untuk masing – masing menuntut diri agar dapat memenuhi kebutuhannya.
Dengan begitu, masyarakat memerlukan tempat wisata untuk tempat beristirahat sekaligus tempat untuk mencerahkan pikiran mereka kembali. Tentu saja pengadaan suatu pariwisata tidak hanya untuk meningkatkan perekonomian setempat, dan untuk me-refresh pikiran pengunjung saja, namun suatu tempat pariwisata sebaiknya dapat memberikan nilai – nilai yang dapat menjadi pengalaman baru bagi pengunjung untuk dibawa pulang dan sedikit banyak dapat mempengaruhi kualitas hidup pengunjung. Nilai – nilai yang ingin disampaikan kepada pengunjung diantaranya adalah nilai sosial – budaya masyarakat yang masih berpegang teguh terhadap idealisme, kesederhanaan, tidak berfikir untuk kepentingan
Individu semata, serta dengan bangga melestarikan sejarah dan potensi seni – budaya yang dimiliki oleh warga daerah suatu tempat pariwisata. Keindahan alam yang ditawarkan juga sebagai cerminan untuk selalu bersyukur, dan memiliki rasa cinta tanah air sehingga akan memiliki keinginan untuk senantiasa menjaga segala bentuk kekayaan yang dimiliki. Sehingga tempat pariwisata yang dibutuhkan dan dapat memberikan nilai – nilai yang baik kepada pengunjung adalah tempat wisata dengan konsep Kawasan Seni Wisata Nostalgia.
Kabupaten Semarang merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Tengah dengan ibukota di Kota Ungaran. Letak Kabupaten Semarang berada pada jalur yang dilewati dalam Poros Jogja – Solo – Semarang, sehingga mempunyai nilai lebih dalam menarik para wisatawan. Berdasarkan pada Rencana Induk Pengembangan Pariwisata (RIPP) Kabupaten Semarang tahun 2008 – 2013, disebutkan bahwa potensi wisata untuk wilayah Kabupaten Semarang adalah potensi wisata alam dan wisata budaya. Terdapat 22 obyek wisata di beberapa titik wilayah Kabupaten Semarang, di antaranya adalah Kolam Renang The Fountain, Hills Joglo Villa, Air Terjun Curug Lawe, curug Benowo, Air Terjun Semirang, Candi Gedongsongo, Palagan Ambarawa, Curug 7 Bidadari, Perkebunan Bunga Krisan, Taman Ria Langen Tirto Muncul, Umbul Sidomukti, Kolam Renang Rawai Permai, Goa Maria Kerep Ambarawa, Bukit Cinta, Kampung Kopi Banaran, Kopeng, Taman Rekreasi Kopeng, Pasar Kriya, Museum Kereta Api, Curug Kembar Bolodewo, Pemandian Muncul, Arrowhead, Wana Wisata Penggaron. Potensi sumber daya alam Kabupaten Semarang sangat menunjang kelangsungan hidup dan pertumbuhan kepariwisataan daerah.
Permasalahannya adalah masih banyak wilayah di Kabupaten Semarang yang belum terolah dan dikembangkan secara maksimal, yang apabila dikembangkan dan dikelola dengan baik akan dapat menambah pendapatan ekonomi daerah melalui pariwisata, juga menjadi alternatif obyek wisata lain di Kabupaten Semarang, sekaligus mendukung tagline “Visit Jawa Tengah”.
Salah satu daerah yang belum terolah adalah Curug Lawe dan Curug Benowo, Desa kalisidi, Ungaran. Daerah tersebut memiliki banyak potensi yang apabila diberi pembinaan, pengarahan, serta pengelolaan dari pemerintah dan stakeholder, akan memunculkan daerah wisata baru yang secara otomatis memberikan dampak peningkatan kesejahteraan ekonomi pada masyarakat daerah desa terkait.
Curug Lawe dan Curug Benowo menjadi hulu Kali Banjir Kanal Barat atau Kali Garang di kota Semarang. Namun, tak banyak pembangunan infrastruktur, kondisi ini justru dimanfaatkan wisatawan untuk bisa lebih dekat dengan alam. Di mata kaki Gunung Ungaran bagian barat, dua obyek wisata alam hadir dan memanjakan mata. Baik Curug Benowo dan Lawe bertempat di Desa Kalisidi, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang. Perlu waktu satu jam perjalanan dari Kota Semarang untuk melihat keindahan alam ini. Tempat wisata ini tergolong mudah ditemukan.
Obyek wisata ini masih belum dibangun infrastruktur sesuai dengan Rencana Sistem dan Fungsi Perwilayahan Pembangunan di Kabupaten Semarang, dalam Satuan Wilayah Pengembangan 2. Satuan Wilayah Pengembangan (SWP) pada daerah ini dipusatkan pada perdagangan dan jasa agribisnis, serta fasilitas umum. Belum terdapat fasilitas yang memadai seperti tempat makan dan lainnya. Para pemwisata harus mempersiapkan bekal dan peralatan yang memadai sebelum pergi ke tempat wisata ini. Jarak Curug Lawe-Benowo dari pintu masuk sangat jauh, dan hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Tidak ada tumpangan, dan Anda harus masuk berjalan kaki menyusuri hutan. Ya, hutan yang penuh dengan semak belukar, pepohonan, jalan yang naik-turun bebatuan. Kira-kira satu hingga dua jam perjalanan dari pintu masuk jika jalan anda cepat. Prasarana berupa Jalan sebagai akses masuk ke curug lawu dan surug benowo masih sangat minim.. Lebar jalan yang kurang dari satu meter mengharuskan anda untuk hati-hati, lantaran di sekeliling jalan ada jurang yang menanti. Meski begitu, jalur itu aman untuk dilalui.
Setelah jalur itu selesai, Anda akan melewati jalan di atas bukit yang terbuat dari Baja yang di bawahnya dilapisi dengan kayu. Jalur itu kerap digunakan wisatawan untuk berfoto. Setelah jalur itu, Anda harus bersiap karena jalur yang dilalui banyak bebatuan, berkelok dan panjang. Anda juga melewati beberapa sungai dalam perjalanan naik turun gunung itu. Di balik gunung terdapat pemandangan luar biasa dari air terjun yang ada. Baik Curug Lawe maupun Curug Benowo menawarkan panorama luar biasa, yang semuanya membuat Anda akan berlama-lama di sana.
Bagi wisatawan, curug itu adalah tempat yang dituju. Setelah sampai di Curug Benowo, ternyata (Kompas.com) tidak sendirian. Ada ratusan warga yang mengantre melihat dua surga tersembunyi di bilik gunung Ungaran itu. Ketika sampai di Curug Benowo, pemandangan akan terasa beda. Corak air tejun mengalir dari atas tebing setinggi kurang lebih 30 meter. Air yang meluncur ke bawah terlihat begitu indah, karena cucuran air terselip di tengah tebing lain yang sama-sama menjulang tinggi.
Sementara menuju Curug Benowo, kondisi lebih alami. Rimbunnya pepohonan memaksa sinar matahari tertahan di atas pohon. Kondisi di sekitar Curug Lawe seperti fajar, tapi sangat ramai wisatawan. Corak air tejun terlihat lebih lebar dan mencucur deras dari atas tebing. Beberapa mata air juga mencucur deras di tebing sekitarnya. Arus air terjun lebih lebat dari Curug Benowo. Meski akses ke tempat ini masih kurang memadai, namun curug lawe dan curug benowo sudah memiliki banyak penggemar. Dengan sedikit perencanaan dan pengelolaan yang baik, serta strategi pemasaran yang tepat. Curug Lawe dan Curug Benowo ini akan menjadi destinasi wisata yang sangat menjanjikan.

1.2    Rumusan Masalah
Dalam perkembangan dunia pariwisata sekarang ini, jenis pariwisata di Indonesia yang sedang digemari adalah pariwisata yang berbasis lingkungan atau alam. Objek wisata alam Curug Lawe merupakan salah satu objek wisata alam yang menarik. Hal tersebut dapat dilihat melalui keindahan panorama alamnya yang asri. Meskipun objek wisata ini banyak dikunjungi wisatawan tetapi memiliki fasilitas yang kurang optimal sehingga diperlukan penataan dan pengemasan fasilitas wisata yang lebih variatif sehingga bisa memberikan kepuasan bagi wisatawan yang berkunjung.
Pengembangan sebuah kawasan wisata Curug Lawe memerlukan upaya-upaya yang nyata untuk menjawab semua permasalahan yang timbul. Adapun permasalahan yang dirumuskan, adalah sebagai berikut:
1.       Bagaimana kondisi Curug Lawe saat ini?
2.       Sumber daya dan potensi alam apa yang dimiliki objek wisata Curug Lawe?
3.       Sarana dan prasarana apa saja yang dibutuhkan untuk menunjang objek wisata Curug Lawe?

4.    Bagaimana konsep pengembangan yang tepat untuk diterapkan dalam meningkatkan jumlah pengunjung objek wisata Curug Lawe?


1.3    Tujuan dan Sasaran
1.3.1           Tujuan
Menentukan konsep perencanaan dan perancangan untuk mengembangkan objek wisata Curug Lawe agar dapat meningkatkan jumlah pengunjung dengan cara menggali dan menampilkan potensi alam serta melengkapi sarana dan prasarana sebagai atraksi daya tarik tanpa merusak kelestarian lingkungan.
1.3.2           Sasaran
Menyusun Landasan Program Perencanaan dan Perancangan Arsitektur (LP3A) guna perencanaan Curug Lawe yang berada di Kawasan Gunung Ungaran di Semarang.

1.4    Metode Pembahasan
1.4.1           Metode SWOT
Banyak faktor yang mempengaruhi minat wisatawan untuk mengunjungi suatu objek wisata. Oleh karena itu faktor-faktor yang mempengaruhi minat maupun permintaan kunjungan wisatawan ke Curug Lawe dan Curug Benowo dengan Pendekatan SWOT.
Pendekatan SWOT digunakan sebagai metode dalam penelitian ini karena memiliki banyak keunggulan dibandingkan pendekatan yang lain yaitu dengan Analisis SWOT maka dapat diketahui situasi objek wisata dengan mengidentifikasi faktor eksternal dan faktor internal yang berpengaruh pada objek wisata, yaitu menganalisis peluang dan kekuatan yang dimiliki untuk menentukan rencana masa depan dan mengatasi kelemahan dan ancaman dengan cara rencana perbaikan.
Menurut Freddy Rangkuti(2005), Analisis SWOT merupakan suatu identifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi perusahaan. Analisis ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (strengths) dan peluang (opportunities), dan secara bersamaan dapat meminimalisir kelemahan (weknesses) dan ancaman (Threats). Proses pengambilan keputusan strategis selalu berkaitan dengan pengembangan misi,tujuan,strategi, dan kebijakan perusahaan. Beberapa penelitian pernah dilakukan di beberapa daerah wisata menggunakan SWOT antara lain penelitian yang dilakukan oleh Dodi Widiyanto,et.al (2008) di Desa Wisata Ketingan, Penelitian oleh Moch. Prihatna Sobari, et.al(2006) di Wisata Bahari Pantai Kalianda Resort, Kabupaten Lampung Selatan, Dewi Ayu Maharani (2009) di objek wisata Umbul Sidomukti, Kabupaten Semarang, penelitian yang dilakukan oleh Jay W Pao (2004) di Macao, serta penelitian yang dilakukan oleh Marina Iijina dan Linda Scrdiene(2004) di Latvia. Namun belum ada penelitian yang pernah dilakukan di Curug Lawe dan Curug Benowo. Strategi pengembangan lebih lanjut untuk menarik wisatawan berekreasi ke Curug Lawe dan Curug Benowo mutlak diperlukan dalam rangka pengembangan sektor pariwisata di Jawa Tengah.



1.5    Sistematika Pembahasan

BAB 1. Pendahuluan
Berisi tentang latar belakang projek, tujuan dan sasaran pembahasan, lingkup pembahasan, metoda pembahasan, dan sistematika pembahasan.

BAB II. Tinjauan Pustaka
Berisi tentang tinjauan pustaka tentang pengantar pariwisata secara umum kemudian focus pada wisata alam berupa air terjun. Terdapat pula dasar hokum pengembangan wisata alam air tentun dengan dua studi kasus di Indonesia.

BAB III. Gambaran Umum Objek Wisata
Berisi tentang gambaran umum lokasi yang ditinjau secara makro ke mikro yaitu dari Kabupaten Semarang, Kecamatan Ungaran Barat, Desa Kalisidi, dan Objek Wisata Curug Lawe dan Benowo.

BAB IV. Analisis Pengembangan Objek Wisata
Berisi tentang analisis terhadap pengembangan objek wisata alam Curug Lawed an Benowo menggunakan analisis SWOT.

BAB V. Konsep Pengembangan Objek Wisata
Berisi tentang konsep pengembangan objek wisata alam Curug Lawe dengan siteplan terlampir.



Minggu, 22 Maret 2015

Penelitian Arsitektur - Evaluasi Pasca Huni

Penelitian Arsitektur?
Pada kesempatan ini saya akan berbagi topic ajuan mengenai penelitian di bidang arsitektur. Saya mengambil jenis penelitian yang sederhana yaitu evaluasi pasca huni. Saya mengajukan proposal penelitian ini untuk menyelesaikan tugas pada Mata Kuliah Metodologi Riset Arsitektur. Bangunan yang saya pilih untuk dievaluasi adalah Rusunawa Mahasiswa Putri Unnes yang letaknya di Gunungpati, Semarang. Semoga bermanfaat. :)





BAB I
PENDAHULUAN

 1.1.       Latar Belakang
Pengembangan Rusunawa (Rumah Susun Sederhana Sewa) kini tengah digencarkan oleh pemerintah tepatnya Kementerian Perumahan Rakyat. Pembangunan Rusunawa termasuk Rusunawa Mahasiswa di seluruh Indonesia  masuk  kedalam  salah  satu  program  pemerintah  pusat  yang  di kenal dengan nama “Program Seribu Tower”. Program ini merupakan salah satu kebijakan strategis yang dianggap tepat karena melihat pertumbuhan penduduk Indonesia yang cukup pesat pertahunnya. Diketahui rata – rata pertumbuhan  penduduk  Indonesia  adalah  2,5  %  per-tahun  maka  sampai tahun 2025 menurut ahli demografi jumlah penduduk Indonesia akan mencapai dua kalilipat dari jumlah sekarang. Karena itu diperlukan suatu perencanaan jangka panjang kedepan untuk mengantasipasi kebutuhan penduduk akan permukiman atau hunian.
Adanya Rusunawa mahasiswa yang dibangun salah satunya di Kawasan Universitas Negeri Semarang selain sebagai fasilitas tempat tinggal yang layak dan dekat dengan lingkungan kampus, bagi mahasiswa tahun pertama, juga bisa menjadi wahana pembelajaran  bagi  mahasiwa tinggal  di  hunian  vertikal.  Dengan tinggal di Rusunawa, mahasiswa secara tuntas dapat menyelesaikan masa transisi perkembangan hidup dan mengenal sosio-budaya perguruan tinggi dan masyarakat kampus.
Rusunawa   selain   sebagai   rumah   tinggal   yang   nyaman   bagi mahasiswa sekaligus sebagai tempat pembinaan mahasiswa sehingga memiliki kualitas intelektual, sosial, emosional, dan spiritual yang memadai.
Pelaksanaan pembangunan rumah susun yang didalamnya juga terdapat Rusunawa untuk mahasiswa di Indonesia dimulai pada tahun 1974 hingga sekarang. Ide pemerintah yang telah tersebut sebelumnya yaitu “Program Seribu Tower” dicetuskan tanpa mengadakan evaluasi tentang keberadaan maupun kondisi rumah susun yang telah dibangun dan ditempati oleh penghuninya. Evaluasi sangat penting  dilakukan  terhadap  bangunan  secara  berkala,  yang  bertujuan  untuk melihat secara keseluruhan efektivitas bangunan, apakah  sudah sesuai  dengan tujuannya  didirikan.  Untuk  dapat  mempertahankan  kondisi  kualitas  bangunan sejak perancanaan, konstruksi, penghunian dan pengoperasian perlu dilakukan Building Performance Evaluation (BPE) untuk setiap tahapan terciptanya suatu bangunan. Building Performance Evaluation (BPE) merupakan umpan balik dan evaluasi terhadap setiap tahapan pembangunan. Ada tiga level (tingkatan) hirarki prioritas building performance yaitu (Preiser, 2005):
1.      health, safety and security performance ;
2.      functional, efficient, and work flow performance ;
3.      psychological, social, cultural and aesthetic performance ;
Ketiga level tersebut disusun berdasarkan tingkat kebutuhan manusia yang berinteraksi dengan lingkungan (setting) dari sebuah lingkungan binaan. Setiap level prioritas ini harus dicapai secara bertahap melalui penerapan aspek-aspek kinerja bangunan dalam perancangan sebuah bangunan.
Untuk dapat memperoleh penilaian yang lebih akurat perlu dilakukan evaluasi secara teliti dan cermat terhadap kriteria kesahatan, kenyamanan dan keamanan melalui Building Performance Evaluation (BPE) atau evaluasi kinerja bangunan. Hasil evaluasi ini akan mengindikasikan bagaimana kondisi kinerja bangunan pada saat diadakannya penelitian yang akan dibandingkan dengan Building Performance Requirements pada perencanaan awal.
Disamping dilakukannya evaluasi kinerja bangunan juga perlu dilakukan identifikasi faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan kinerja bangunan dan faktor-faktor yang menyebabkan kinerja bangunan tersebut tidak bekerja secara optimal.


1.2.       Rumusan Masalah
Pengadaan sarana rusunawa sebagai fasilitas penunjang hunian mahasiswa Unnes khususnya para putri termasuk hal mendasar yang perlu mendapat perhatian khusus dari pemerintah daerah dan pihak universitas. Akan tetapi banyak rumah susun yang telah dibangun dan dihuni tidak menunjukkan kinerja yang baik, khususnya dalam memenuhi kriteria kesehatan, kenyamanan dan keamanan.
Adapun yang menjadi pertanyaan penelitian dalam penelitian ini adalah:
a.       Bagaimana kondisi eksisting Rusunawa Mahasiswa Putri Unnes?
b.      Bagaimanakah penerapan dan implikasi Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2011 tentang Rumah Susun terhadap pemenuhan criteria kesehatan, kenyamanan, dan keamanan selama dihuni dan RDTRK Kecamatan Gunungpati terhadap lokasi pembangunan rumah susun mahasiswa tersebut?
c.       Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi tidak optimalnya kinerja bangunan dalam memenuhi kriteria kesehatan, kenyamanan dan keamanan sebuah rumah susun sederhana?
d.      Bagaimana rumusan konsep optimalisasi kinerja bangunan untuk perancangan rumah susun sederhana?
1.3.       Tujuan Penelitian
Tujuan  penelitian  ini  adalah  untuk  merumuskan  Konsep  Optimalisasi Building Performance dalam Perancangan Rusunawa Mahasiswa Putri Unnes dengan evaluasi pasca huni yaitu melakukan analisis untuk pemecahan permasalahan yang ada.


1.4.       Sasaran Penelitian
Untuk  mencapai  tujuan  penelitian  maka  perlu  dicapai  sasaran-sasaran seperti diuraikan di bawah ini:
a.       Mengevaluasi kinerja bangunan pada kriteria kesehatan, kenyamanan dan keamanan dalam Rusunawa Mahasiswa Putri Unnes setelah dihuni.
b.      Mengidentifikasi faktor-faktor yang menyebabkan tidak optimalnya kinerja bangunan dalam memenuhi kriteria kesehatan, kenyamanan dan keamanan sebuah rumah susun sederhana.
c.       Merumuskan konsep optimalisasi kinerja bangunan dalam  perancangan Rusunawa Mahasiswa Putri Unnes.


1.5.       Batasan Penelitian
Penelitian ini dibatasi pada hal-hal sebagai berikut :
1.      Rumah susun yang menjadi obyek dalam penelitian ini adalah Rusunawa Mahasiswa Putri Unnes.
2.      Penelitian ini tidak menghasilkan detail engineering design baru untuk rancang bangun rumah susun. Hanya merumuskan konsep untuk pengoptimalisasian kinerja bangunan yang telah ada.


1.6.       Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup penelitian meliputi ruang lingkup wilayah, aspek-penelitian dan substansinya. Penelitian ini dilakukan pada rumah susun sederhana dengan mengambil lokasi studi pada Rusunawa Mahasiswa Putri Unnes.
Substansi  keilmuan  yang akan  digunakan  untuk  membantu  mengevaluasi, membandingkan dan merumuskan konsep optimalisasi building performance dalam  perancangan  rumah  susun  sederhana  adalah  teori  mengenai  kinerja bangunan, Konsep Evaluasi Kinerja Bangunan, Konsep Rumah Sehat dan dukungan dari teori Arsitektur dan Perilaku Manusia, serta berbagai pedoman teknis bangunan rumah di Indonesia.


1.7.       Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini secara teoritis diharapkan dapat menjadi referensi dan pedoman dalam melakukan penelitian yang sama di waktu yang akan datang. Penelitian ini juga diharapkan memberikan kontribusi dalam perkembangan Ilmu Arsitektur, khususnya terhadap teori-teori kinerja bangunan.
Konsep yang dihasilkan dalam penelitian ini diharapkan bermanfaat secara praktis yang dapat digunakan dan diterapkan oleh praktisi dan perencana rumah susun diwaktu yang akan datang. Penelitian ini juga diharapkan menjadi masukan kepada pemerintah dalam memantapkan program pembangunan rumah susun di Indonesia.


1.8.       Sistematika Penelitian
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini berisi uraian tentang latar belakang, perumusan masalah, maksud dan tujuan, sasaran, batasan, ruang lingkup, manfaat, dan sistematika pembahasan.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Dalam bab ini menguraikan tentang pengertian rumah susun, perkembangan rumah susun sederhana, teori-teori dan dasar hukum yang terkait dengan penelitian, dan beberapa penelitian terdahulu yang melatarbelakangi peneltian ini.

BAB III METODE PENELITIAN
Bab ini berisi uraian tentang desain studi, metode pengumpulan data, deinisi operasional, indikator variabel, metode-metode analisis, pendekatan model, dan hipotesis.

BAB IV GAMBARAN UMUM STUDI
Bab ini menjelaskan tentang gambaran umum yang menjelaskan kondisi eksisting Rusunawa Mahasiswa Putri Unnes.

BAB V ANALISIS
Bab ini merupakan penjelasan dari hasil penelitian yang dianalisis mengenai Building Performance Evaluation (BPE) atau evaluasi kinerja bangunan dalam memenuhi kriteria kesehatan, kenyamanan dan keamanan sebuah rumah susun sederhana dan faktor yang membuat kinerja bangunan tersebut tidak optimal.
BAB VI RUMUSAN KONSEP OPTIMALISASI KINERJA BANGUNAN
Dalam bab ini membahas mengenai konsep optimalisasi kinerja bangunan dalam perancangan Rusunawa Mahasiswa Putri Unnes.